Internasional

AS-China Tak Sepakat, Sidang APEC Berujung Buntu

News - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
18 November 2018 16:54
Pertemuan APEC berujung buntu karena pecahnya AS-China
PORT MORESBY, CNBC Indonesia- Seorang pejabat China mengatakan para pemimpin Asia-Pasifik tidak dapat mengeluarkan pengumuman resmi (komunike) seperti biasanya di akhir forum regional Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation / APEC), yang diadakan di Papua Nugini, Minggu (18/11/2018).

Ini karena perpecahan yang mendalam antara Amerika Serikat (AS) dan China atas perdagangan dan investasi yang mendominasi pertemuan tersebut.Sebagai gantinya, forum di PNG ini hanya akan merilis chairman's statement atau "pernyataan ketua", kata Zhang Shaogang, Direktur Jenderal Departemen Internasional China di Kementerian Perdagangan.





Perpecahan AS-China telah menyulitkan untuk menyusun kesimpulan sebuah pertemuan tingkat tinggi, kata Menteri Luar Negeri Papua Nugini Rimbink Pato kepada Reuters sebelumnya pada Minggu, ketika AS dan China mengungkapkan ambisi yang bersaing untuk kawasan itu.

"Anda tahu 2 raksasa besar di dalam ruangan," kata Perdana Menteri Papua Nugini Peter O'Neill pada konferensi pers penutupan, ketika ditanya tentang hal yang tidak disetujui anggota-anggota kelompok APEC.
Ketika ditanya tentang isu-isu utama yang mencegah kesepakatan, O'Neill menjawab: "Organisasi Perdagangan Dunia dan reformasi Organisasi Perdagangan Dunia," tetapi mengatakan itu di luar APEC.

"APEC tidak memiliki piagam atas Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation / WTO), itu adalah fakta.

Hal-hal itu dapat diangkat di WTO. "

Deklarasi Pemimpin telah dikeluarkan setelah setiap pertemuan tahunan para pemimpin APEC sejak pertama pada tahun 1993, situs web kelompok tersebut menunjukkan.

Sebagai tuan rumah APEC, O'Neill mengatakan Ia akan merilis Pernyataan Ketua pada Minggu.

Persaingan antara AS dan China atas Pasifik juga menjadi fokus pada pertemuan di Papua New Guinea dengan sekutu Barat meluncurkan tanggapan terkoordinasi atas program Road and Belt China.

Dengan menjanjikan untuk bersama-sama mendanai proyek elektrifikasi dan internet senilai US$1,7 miliar (Rp 24 triliun) di Papua Nugini.

Di sisi lain, negara Tonga mendaftar ke Belt and Road dan memenangkan penangguhan pinjaman China, kata seorang pejabat Tonga.

ketika Ia meninggalkan ibukota Papua Nugini, Port Moresby, Wakil Presiden AS Mike Pence, merinici perbedaan AS dengan China, sehari setelah dia secara langsung mengkritik program Belt and Road-nya.



"Mereka memulai dengan praktik perdagangan, bea masuk, kuota, transfer teknologi paksa, dan pencurian kekayaan intelektual. Ini melampaui itu untuk kebebasan navigasi di laut, kekhawatiran tentang hak asasi manusia, "kata Pence kepada wartawan yang bepergian bersamanya.

Rimbink Pato sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa sistem perdagangan multilateral adalah titik yang mencuat dalam menyusun komunike.

Pato juga menegaskan kepada Reuters bahwa pejabat China telah melihatnya pada Sabtu atas komunike, menambahkan mereka ditolak karena mereka tidak membuat "pengaturan yang diperlukan" untuk pertemuan. Tetapi membantah laporan media yang mereka telah menerobos masuk ke kantornya.

Pada September di Forum Kepulauan Pasifik, ada perselisihan serupa ketika utusan Tiongkok menuntut agar diizinkan untuk berbicara di forum sebelum perdana menteri Tuvalu.
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading