LNG Indonesia Lambat Diserap Domestik

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
02 November 2018 10:40
LNG Indonesia Lambat Diserap Domestik
Jakarta, CNBC Indonesia- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, ternyata gas alam cair/LNG di Indonesia sempat lebih banyak diekspor ketimbang digunakan di dalam negeri.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, menurut pihaknya, kondisi seperti itu disebabkan, dalam rentan waktu cukup lama kebutuhan domestik belum tumbuh, harga minyak juga masih rendah sehingga pemanfaatan gas dalam negeri tidak optimal. 




"Tren kenaikan kebutuhan gas bumi tumbuh di 2000-an terutama di 2005 ketika harga minyak naik di atas US$ 100 dolar per barel di 2008, dari situ baru mikir bagaimana kalau gunakan gas (untuk di dalam negeri)," terang Amien saat dijumpai di kantor SKK Migas, Kamis (1/11/2018).

Lebih lanjut, Amien mengatakan, pada 2014 pasokan gas domestik lebih besar dari pada ekspor, saat ini 60% gas alam dipakai untuk kebutuhan domestik. 

Amien mengakui, pertumbuhan serapan LNG di Indonesia tersebut memang lebih lambat. Apalagi mengingat gas alam cair/LNG di Indonesia lebih banyak diekspor ketimbang digunakan di dalam negeri. 

Apalagi, mengingat, ternyata gas alam cair/LNG di Indonesia sudah ada sejak 1977, namun baru digunakan oleh domestik mulai 2012 lalu.

"Sejak 1977 Indonesia sudah ekspor LNG ke Jepang melalui PT Badak NGL, tapi yang kami lihat pembeli domestik yang memanfaatkan sedikit sekali. Nah waktu 2012 barulah ada kargo pertama domestik untuk kirim LNG dari Bontang ke FSRU Jawa Barat. Artinya, lama sekali kita baru bisa nikmati gas alam," tambah Amien.

Memang masih ada tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan gas alam ini, yaitu, bagaimana pemanfaatan gas itu untuk bisa dipakai di dalam negeri, bukan dibeli untuk dijual lagi ke luar negeri.

"Menurut kami, hal ini terjadi karena kebutuhan domestik sudah ada tapi belum tumbuh. Kami telusuri, infrastruktur jadi kendalanya," tutur Amien.

Ia pun mencontohkan, misalnya di Bontang, kebutuhan gas ada di Indonesia bagian barat, terutama Sumatra. Tetapi, masalahnya, adalah bagaimana cara membawa gas itu ke sana. Amien mengamati, untuk membawa LNG pilihannya pakai kapal, dan container LNG. 

"Lalu saya observasi, kok kayaknya galangan kapal kita tidak pernah buat kapal LNG, berarti ada yang kita lupakan. Fabrikasi kita tidak ada yang bikin LNG kontainer, mungkin ada yang coba buat tapi kita belum integrasikan. Waktu 2015 kami diskusi dengan galangan kapal, dan sebenarnya teknologi mudah galangan kapal siap, tapi yang saya heran sampai sekarang tidak ada yang bikin. Iso tank LNG kontainer juga ada di Cikarang, artinya sudah bisa tapi tidak ada yang buat," ungkapnya.

Sehingga, lanjutnya, ia berharap, para pelaku usaha bisa membuat bisnis gas alam cair, yang merupakan hal penting, karena jika bisa membuat bisnis ini sampai ke ritel, maka ujungnya bisa menurunkan harga sembako, menciptakan lapanan kerja yang banyak, sebab, tambah Amien, dua hal itu adalah yang penting bagi negara.

"Makanya kami mikir, mari diskusi deh dengan pelaku bisnis, end to end supply chain dari hulu ke customer, mestinya customer hotel, mal, rumah sakit, mungkin kita belum pernah ngobrol, kita ngobrol di sini barang kali nyambung," pungkas Amien.  (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading