Crazy Rich Surabayan

Terbukti, Surabaya Memang Sarang Orang Kaya RI

News - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
23 September 2018 15:52
Terbukti, Surabaya Memang Sarang Orang Kaya RI
Jakarta, CNBC IndonesiaBeberapa waktu terakhir dunia maya sedang dilanda demam film Crazy Rich Asian. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Kevin Kwan ini sukses membius para pecinta film dalam negeri.

Dari segi cerita, sebenarnya premisnya amat sederhana. Romansa antara dua insan dengan status sosial yang berbeda, dan kemudian hubungannya tidak disetujui oleh keluarga yang lebih kaya. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sering ditampilkan di sinetron atau bahkan Film Televisi (FTV) tanah air.

[Gambas:Video CNBC]


Namun, yang membuat film ini menonjol adalah keberhasilannya dalam merepresentasikan budaya Asia dengan sangat apik. Dari mulai tradisi keluarga, hingga nilai-nilai masyarakat Tiongkok yang amat universal.

Di sisi lain, Crazy Rich Asian juga mampu tampil mewah dengan menayangkan gaya hidup borjuis keluarga kaya Tiongkok di Singapura. Suatu tema yang sebenarnya sudah terjadi dari dahulu, namun jarang ditangkap oleh mata orang kebanyakan.

Kombinasi kedua nilai di atas lantas menjadikan film ini mampu mencuri perhatian para penikmat sinema di Indonesia. Saking gandrungnya, muncul berbagai hashtag yang terinspirasi dari Crazy Rich Asian di media sosial. Salah satu yang paling ramai adalah #CrazyRichSurabayan.

Tagar ini memuat potongan-potongan cerita tentang gaya hidup orang kaya di Surabaya yang bikin geleng-geleng kepala, sekaligus jenaka.

Lantas mengapa di Surabaya? Berdasarkan penelusuran tim riset CNBC Indonesia, ibu kota Provinsi  Jawa Timur ini memang merupakan salah satu wilayah yang menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia.

Dalam ukuran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Provinsi Jawa Timur duduk di posisi ke-2 terbesar di Indonesia, hanya kalah dari DKI Jakarta. Pada tahun 2017, PDRB provinsi ini mencapai Rp1.482,15 triliun atau menyumbang sekitar 15% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Sementara itu, PDRB Kota Surabaya pada tahun 2017 adalah sebesar Rp364,71 trilun. Artinya, Kota Pahlawan berkontribusi nyaris seperempat (24,61%) dari perekonomian Provinsi Jawa Timur. Artinya, Kota Surabaya memang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi tanah air.

Secara pertumbuhan, perekonomian Surabaya tumbuh sebesar 6,13% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada tahun 2017. Capaian itu lebih cepat dari pertumbuhan Jawa Timur sebesar 5,45% YoY maupun nasional sebesar 5,07% YoY di periode yang sama.



Secara struktur ekonomi, perekonomian Surabaya ditopang oleh kuatnya perdagangan besar dan eceran, serta masifnya industri pengolahan di daerah tersebut.

Pada tahun lalu, PDRB sektor perdagangan besar dan eceran mencapai Rp103,3 triliun (28,33% PDRB Surabaya), sedangkan sektor industri pengolahan sebesar Rp69,88 triliun (19,16% PDRB Surabaya). Kedua sektor tersebut nyaris menyumbang setengah dari perekonomian Kota Surabaya.

Terbukti, Surabaya Memang Sarang Orang Kaya RI Foto: Para pengusaha alias para 'crazy rich' se-Jawa Timur






Faktor geografis yang strategis memang menjadikan Kota Surabaya unggul di sektor perdagangan. Surabaya merupakan pusat penghubung untuk menuju ke Indonesia Timur. Oleh karena itu, wajar saja perputaran uang begitu deras di ibu kota Jawa Timur ini.

Selain itu, Kota Surabaya juga memang merupakan gudangnya industri. Per tahun 2017, tercatat ada 873 industri besar/sedang di Surabaya. Dengan jumlah sebesar itu, Kota Surabaya ditasbihkan sebagai salah satu kota industri terbesar di tanah air.

Adapun jenis industri yang mendominasi di Kota Surabaya adalah industri makanan (143 industri), industri karet dan barang dari karet/plastik (115 industri), dan industri bahan kimia dan barang dari kimia (54 industri).

Dengan struktur ekonomi seperti itu, perekonomian Surabaya juga cenderung lebih kokoh dibandingkan wilayah lain yang amat tergantung dengan komoditas. Seperti contoh, sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi mengandalkan komoditas batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Saat harga komoditas jatuh, perekonomian wilayah-wilayah tersebut lantas terhambat.

Selain dari sisi ekonomi, Kota Surabaya juga nampaknya menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi para miliuner di Indonesia. Hal itu tercermin dari unggulnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Pahlawan.

IPM sendiri menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM dibentuk oleh 3 dimensi dasar, yaitu, umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Meski dengan jumlah industri yang masif, IPM Kota Surabaya tercatat sebesar 81,07 pada tahun lalu, atau berada di urutan ke-12 IPM terbesar dari 500-an kabupaten/kota yang disurvei oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Nilai kota Surabaya juga jauh mengungguli capaian IPM Jawa Timur dan Indonesia, yang masing-masing sebesar 70,27 dan 70,81. Kota Surabaya mampu mengungguli IPM DKI Jakarta sebesar 80,06.



Ibu kota provinsi, metropolitan, pusat perputaran uang, ditambah pula akses ke pendidikan dan kesehatan yang mudah, akhirnya mampu menarik minat para Crazy Rich Indonesia untuk membangun "sarang" di Kota Surabaya.  


(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading