Sentosa Cove & Keruntuhan Surga pada Miliarder di Singapura

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
19 September 2018 20:35
Sentosa Cove & Keruntuhan Surga pada Miliarder di Singapura
Singapura, CNBC Indonesia - Sentosa Cove, sebuah wilayah pemukiman yang terletak di sebuah pulau di lepas pantai Singapura, kini sangat sepi. Bahkan pada hari kerja, jarang sekali ada orang yang berlalu lalang di jalan-jalannya, yang kanan kirinya ditumbuhi pohon kamboja.

Namun, keheningan itu tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada real estate di wilayah itu. Penjualan properti di wilayah ini telah meningkat.

Sayangnya hal itu merupakan sesuatu yang buruk pagi mereka yang menjual bangunannya karena harga rata-rata penjualan di sana turun hampir 30% dari rekor tertinggi pada tahun 2011.


Angka itu lebih parah dari penurunan di daerah pusat utama London yang kacau akibat Brexit. Di Sentosa Cove, penjual bahkan mengalami kerugian parah hingga 40%.

Karena pasar real estat mewah mulai menjamur di Asia-Pasifik selama dekade terakhir, mulai dari Peak terkenal Hong Kong hingga rumah-rumah mewah di tepi laut Sydney, Sentosa Cove berdiri sebagai kisah peringatan langka tentang bahaya spekulasi properti internasional.

Uang panas dari hiruk-pikuk komoditas yang mencapai puncaknya sekitar tujuh tahun lalu telah musnah, dan preferensi para jutawan telah bergeser ke wilayah lain di daratan Singapura.

Sekarang, setelah bertahun-tahun mengalami kerugian besar dalam penjualannya, wilayah di pulau Sentosa itu menghadapi satu lagi pukulan, kali ini dari keputusan pemerintah yang pada bulan Juli ingin meningkatkan stamp duty atau di Indonesia disebut Bea atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

"Rugi membuat kesepakatan terus mengganggu pasar," kata Christine Li, kepala penelitian Cushman & Wakefield untuk Singapura.

"Langkah-langkah pendinginan baru-baru ini, ditambah dengan ketidakpastian menjulang yang timbul dari kenaikan suku bunga dan ketegangan perdagangan, akan membebani selera investor dalam waktu dekat."

Penjualan rumah pribadi anjlok 64% pada Agustus hingga setidaknya dalam enam bulan karena tindakan pendinginan pemerintah mulai berlaku, menurut data yang dirilis awal pekan ini dari Urban Redevelopment Authority.

Sesuatu yang sebelumnya menjadi kekuatan utama Sentosa Cove, akhir-akhir ini berubah menjadi beban. Daerah ini adalah satu-satunya tempat di Singapura di mana orang asing dapat membeli rumah dengan tanahnya, meningkatkan daya pikatnya kepada pembeli luar negeri, yang merupakan sepertiga dari pembelian mewah di Singapura tahun lalu.

Tapi dengan kenaikan BPHTB dua kali lipat menjadi 20% sejak 2011 untuk pembeli asing, dibandingkan dengan yang hanya 3% untuk warga Singapura, wilayah perumahan oasis tepi laut itu kini merugi.

Namun, warga Singapura lebih memilih untuk membeli properti yang yang langsung di bangun di atas tanah, yang merupakan hak milik, dibandingkan dengan Sentosa, yang merupakan bangunan sewaan.

Dibangun di tanah reklamasi, Sentosa Cove adalah rumah bagi lebih dari 2.000 penduduk, perpaduan rumah pribadi dan apartemen kondominium. Sering di cap sebagai taman bermain Singapura untuk orang kaya dan orang terkenal (pada tahun 2012, tokoh pertambangan Australia, Gina Rinehart, mengeluarkan US$57 juta untuk dua unit di Seven Palms, di sebelah pantai Tanjong), wilayah itu juga termasuk lapangan golf, marina, kanal buatan manusia dengan dermaga perahu pribadi, dan setrip restoran kelas atas dan deli gourmet.

Salah satu kondominium baru, Cape Royale, menjadi cameo dalam film blockbuster musim panas Crazy Rich Asians. Pulau Sentosa, dalam bahasa Melayu berarti 'perdamaian dan ketenangan', awal tahun ini sempat menjadi sorotan karena menjadi tuan rumah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan diktator Korea Utara Kim Jong Un.

Harga di Sentosa Cove mulai jatuh pada 2013 setelah dua putaran pengukuran pendinginan properti pada Januari dan Juni tahun itu. Harga rumah-lahan berada pada titik terendah sejak 2009, menurut data yang dikumpulkan oleh CBRE Group Inc, melansir The Strait Times.

Nilainya telah jatuh ke titik di mana penurunan lebih lanjut mungkin terbatas, kata Li Cushman & Wakefield. Namun pembeli internasional yang kaya, dengan banyak pasar mewah yang menjadi pilihan, nampaknya terus bersabar menunggu harga jatuh lebih dalam lagi.

"Saya memiliki beberapa investor Rusia yang tertarik untuk membeli, mereka ingin menikmati kehidupan pulau, tetapi mereka menunggu harga yang tepat," kata Chandran V R, managing director Cosmopolitan Real Estate Pte. "Beberapa bungalow sudah ada di pasar selama empat, lima tahun."

Cosmopolitan terlibat dalam transaksi US$11 juta tahun lalu di mana penjualnya adalah seorang pengusaha dari Timur Tengah. Penjual kehilangan sekitar US$3 juta pada kesepakatan itu, "tetapi dia memiliki pembeli yang bersedia dan dia bersikap realistis tentang situasi," kata Chandran.

Sebuah penthouse di The Oceanfront dijual seharga US$7,2 juta pada bulan April, tiga tahun setelah pertama kali diiklankan di pasar, Straits Times melaporkan awal bulan ini, mengutip beberapa sumber. Properti terakhir berpindah tangan pada 2007 dengan kesepakatan sebesar US$9,33 juta.

Sementara itu, pemilik Inggris dari sebuah apartemen di Seven Palms, meminta US$12 juta, menurut laporan surat kabar. Unit seluas 4.822 kaki persegi dijual seharga US$16 juta pada tahun 2010.

Sejak 5 Juli, tidak satupun dari enam rumah yang di jual pemerintah dengan harga tinggi, namun pemiliknya masih tetap ingin menjualnya. PropertyGuru Group mengatakan jumlah daftar penjualan di pulau itu naik sekitar 7% dari tahun lalu.

"Langkah-langkah baru akan mempengaruhi seluruh pasar perumahan," kata Desmond Sim, kepala penelitian untuk Singapura di CBRE. "Sentosa, karena ukuran tiketnya yang tinggi, bisa jatuh lebih jauh ke urutan pecking." (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading