Ketika Bankir Menjelma Jadi Konsultan Bisnis

News - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
05 May 2018 17:15
Ketika Bankir Menjelma Jadi Konsultan Bisnis
Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi pengusaha kecil dan menengah, apa yang terlintas di benak anda pertama kali ketika ingin meminjam uang dari bank? Bunga yang rendah, proses yang tidak rumit, atau tenor yang fleksibel?

Percayalah, semua bank akan menjanjikan hal itu ketika pertama kali anda menghubungi mereka untuk pengajuan kredit. Namun, ketika semua bank sudah memberikan janji yang sama dalam kredit usaha kecil menengah, apa yang bisa menjadi pembeda?

Nilai tambah selalu dituntut oleh pengusaha kecil dan menengah ketika bermitra dengan bank dalam pengajuan kredit. Toh sebagian dari UKM itu sadar bahwa bank butuh mereka sebesar ketergantungan mereka terhadap kredit bank.


Bagi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) nilai tambah ini yang menjadi andalan dalam menggenjot kredit UKM dibawah divisi BTPN Mitra Bisnis.

"Jadi kami tidak hanya memberikan solusi keuangan tetapi yang lebih penting bagaimana kami bisa membantu nasabah kami untuk sukses," ujar Business Strategy & Aligment Head SME BTPN Michael Jermia Tjahjamulia, yang dikutip Sabtu (5/5/2018).

Nilai tambah andalan bagi nasabah kredit UKM BTPN adalah akses ke pasar. Dalam nilai tambah ini BTPN akan membantu nasabah memperluas pasar penjualan melalui virtual market. Selain itu akses ke pasar juga akan didukung oleh supply chain financing

Nilai tambah yang lain adalah pengembangan kapasitas dari nasabah. Dua pilar utama dalam pengembangan kapasitas nasabah adalah Mitra Bisnis Club dan Mitra Bisnis Info.

Dalam Mitra Bisnis Club, nasabah akan diundang dalam setiap pelatihan yang diselenggarakan BTPN, seperti pelatihan tax amnesty, pelatihan tax planning hingga pelatihan digital marketing.

Selanjutnya Mitra Bisnis Info menawarkan artikel riset usaha sesuai kebutuhan dari nasabah. Menurut Michael, BTPN bisa memberikan artikel riset pasar dan business model secara spesifik untuk kebutuhan nasabah secara gratis.

"Perbulan kami memproduksi 50-60 artikel riset sesuai kebutuhan nasabah. Hasil riset ini bisa membantu mereka untuk mengambil keputusan bisnis, tetapi keputusan tetap berada di mereka," ujarnya.

Dia mencontohkan ada sebuah riset yang diminta oleh nasabah mengenai potensi restoran steak di Makassar, Sulawesi Selatan. Hasil risetnya, tutur dia, menyatakan potensinya kurang baik.

"Kami tidak akan mendorong nasabah untuk berbisnis yang potensinya kurang baik, meskipun kami ingin menyalurkan kredit ke mereka," ujarnya.

Nilai tambah ini menjadikan para bankir BTPN Mitra Bisnis menjadi seolah-olah konsultan bisnis dari para nasabahnya, namun secara gratis. "KPI (key performance index) saya bukan hanya dinilai dari berapa besar kredit yang disalurkan, tetapi berapa banyak nasabah yang tambah sukses," ujar Michael.

Hingga Maret 2018, Kredit UKM yang disalurkan oleh BTPN menembus Rp11,9 triliun, tumbuh sekitar 19% dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Kredit UKM tersebut memiliki porsi sekitar 19% dari total kredit BTPN yang mencapai Rp 65,3 triliun.

Pertumbuhan kredit Mitra Bisnis tersebut cukup agresif karena rata-rata pertumbuhan kredit pada industri perbankan nasional Februari 2018 lalu berkisar 8,2%. Pertumbuhan Mitra Bisnis diantara segmen-segmen lain BTPN juga tergolong tinggi meskipun belum genap 5 tahun sejak diluncurkan pada 2013 lalu.

Michael menjabarkan tingginya pertumbuhan kredit UKM tidak terlepas dari potensi besar yang di Indonesia. Menurutnya, ada sekitar 300.000 pengusaha kecil dan menengah yang membutuhkan pendanaan. "Nasabah BTPN Mitra Bisnis baru sekitar 3.000 nasabah, jadi potensi untuk tumbuh masih besar," jelasnya.

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading