Cerita Myanmar yang Kirim Protes ke Mark Zuckerberg Facebook

News - Rehiya Sebayang, CNBC Indonesia
06 April 2018 14:40
 Kelompok masyarakat sipil Myanmar membalas CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui surat terbuka.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok masyarakat sipil Myanmar membalas CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui surat terbuka. Dalam surat teresebut, Myanmar menuduh Facebook gagal menekan penyebaran isu anti-Rohingya yang telah meningkatkan ketegangan antar umat beragama di negara tersebut.

Surat gabungan tersebut merupakan tanggapan atas komentar yang di buat Zuckerberg dalam wawancara dengan situs berita Vox yang diterbitkan pekan lalu, di mana ia mencontohkan umat Buddha dan Muslim Myanmar yang disebutnya saling memprovokasi melalui Facebook Messenger.

"Hal itu merupakan kejelasan bahwa orang-orang mencoba menggunakan platform kami untuk dapat menghasut bahaya yang nyata," kata Zuckerberg.


Namun, Facebook menentang tuduhan terhadap platformnya yang dianggap membantu menyulut pertumpahan darah di antara komunitas masyarakat Myanmar, yang sebagian besar penduduknya beragama Buddha.

"Sistem kami mendeteksi bahwa itu sedang terjadi (provokasi melalui Facebook). Kami menghentikan pesan-pesan tersebut supaya tak menyebar lebih lanjut," katanya.

Respons dari raksasa media sosial tersebut terhadap ujaran kebencian dan rumor di Myanmar dinilai "tidak memadai" selama bertahun-tahun lamanya, kata kelompok-kelompok itu, yang telah mencoba menandai konten berbahaya di Facebook.

"Butuh waktu lebih dari empat hari sejak pesan mulai beredar hingga akhirnya dapat disampaikan kepada Anda (Zuckerberg)," kata surat itu.

"Alih-alih dihentikan, pesan-pesan tersebut justru menyebar dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, menjangkau seluruh negeri dan menyebabkan ketakutan yang meluas dan setidaknya tiga insiden kekerasan karenanya."

Mereka meminta perusahaan untuk meningkatkan sistem pengawasannya terkait postingan yang dapat memicu perselisihan, meningkatkan transparansi, meningkatkan interaksi dengan para pemangku kepentingan lokal, serta memaksimalkan data & tim teknisnya guna mengidentifikasi pengguna yang sudah berkali-kali melakukan pelanggaran.

Facebook tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentar. Namun, perusahaan sebelumnya telah menyatakan usahanya dalam meningkatkan layanannya di Myanmar dengan menambah staf, meningkatkan "kemampuan bahasa", dan mendorong kelompok-kelompok lokal untuk melaporkan konten berbahaya.

Pada akhir Januari Facebook menghapus halaman dari biksu anti-Rohingya populer, Wirathu. Tahun lalu, Facebook tersebut mengatur penggunaan kata "kalar" yang dianggap menghina umat Islam.

Di Myanmar, Facebook menjadi saluran komunikasi utama baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Namun saat ini Facebook banyak di kritik karena diduga membantu menyebarkan kebencian etnis di Myanmar.

Penyelidikan terhadap media sosial itu semakin meningkat setelah kampanye militer berdarah terhadap Rohingya yang meletus Agustus lalu menyebabkan sekitar 700.000 masyarakat minoritas Muslim Myanmar mengungsi ke Bangladesh.

Pada bulan Maret, pelapor khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee mengatakan Facebook telah berubah menjadi "binatang buas" dan telah menghasut "banyak kekerasan dan banyak kebencian terhadap Rohingya atau etnis minoritas lainnya".


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading