'Indonesia Memang Belum Swasembada Beras'

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia 15 January 2018 10:17
'Indonesia Memang Belum Swasembada Beras'
Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia harus mengimpor beras untuk memenuhi pasokan dalam negeri dan menurunkan harga di pasar nasional. Terkait hal itu Lektor Kepala Perbanas Institute, Dradjad H. Wibowo, menegaskan RI memang belum swasembada beras.

Menurut Dradjad, selama ini Kementerian Pertanian cukup sering mengklaim swasembada pangan termasuk soal beras seperti yang dikatakan Menteri Pertanian akhir tahun lalu.

“Sekarang, klaim tersebut dibanting dengan telak. Bukan oleh lawan politik atau pakar. Tapi oleh pasar,” jelas Dradjad yang juga menjabat sebagai Anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, dalam keterangannya yang dikutip Senin (15/01/2018).


Dia menjelaskan harusnya harga beras stabil karena Januari dan Februari adalah musim panen padi, namun saat ini kenyataannya tidak demikian.


“Sebenarnya BPS (Badan Pusat Statistik) sudah mendeteksi sinyal ini pada September 2017, di mana harga beras kualitas medium naik 1,27% menjadi Rp 8.935 per kilogram di tingkat penggilingan. Tapi September belum panen raya. Jadi, alarm belum berbunyi,” papar dia.

Sekarang, jelas Dradjad, meskipun tengah memasuki masa panen tapi harga kian melambung akibat produksi belum mencukupi karena memang tidak ada swasembada.

'Indonesia Memang Belum Swasembada Beras'Dradjad Wibowo


Dia menyoroti angka stok beras yang dipublikasikan pemerintah yakni sekitar 930.000 ton sebetulnya masih sangat mengkhawatirkan.

“Bandingkan dengan masa orde baru. Saat itu stok beras dijaga sekitar 2 juta ton. Ini pun sudah dianggap mengkhawatirkan. Padahal, jumlah penduduk hanya setengah dari sekarang,” ungkap Dradjad.

Lebih lanjut, menurutnya, data produksi dan konsumsi beras saat ini memang masih simpang siur.

Dia memaparkan, apabila berhitung menggunakan data BPS sebetulnya saat ini produksi beras dua kali lipat dari konsumsi masyarakat. 

Perhitungan Dradjad: BPS menyatakan produksi gabah kering giling (GKG) pada 2014 sebanyak 70,85 juta ton, lalu naik menjadi 75,4 juta ton pada 2015, dan mungkin 79 juta ton pada 2016.

Kemudian pada 2017, diasumsikan produksi sekitar 80 juta ton GKG. Lalu, menggunakan angka konversi GKG ke beras yaitu 62,4% sesuai survei BPS pada 2005-2007, maka didapat angka produksi beras 50,19 juta ton.

Adapun untuk konsumsi per kapita, digunakan angka BPS yaitu 98 kg beras per kapita per tahun pada Maret 2015 sesuai Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Sementara itu, jumlah penduduk per Juni 2016 adalah 257,91 juta jiwa dan dengan laju pertumbuhan 1,49% maka kira-kira penduduk pada Juni 2017 sebanyak 261,75 juta jiwa. Kemudian, dikalikan angka ini dengan konsumsi per kapita maka keluar angka konsumsi beras nasional 25,65 juta ton.

Jadi, jelas Dradjad, perhitungan dengan menggunakan data BPS itu menghasilkan angka produksi beras 50,19 juta ton dan angka konsumsi beras 25,28 juta ton, sehingga produksi dua kali lipat dari konsumsi.

“Saya tidak punya data tentang berapa porsi produksi nasional yang dipakai untuk benih, konsumsi sendiri, terbuang dan sebagainya. Tapi, kalau produksi dua kali lipat konsumsi, seharusnya negara kebingungan membangun gudang. Yang jelas, pasar tidak percaya dengan data di atas. Yang mereka tahu, sekarang panen, tapi beras kurang,” tegasnya.

(ray)
Terpopuler
    spinner loading
Terkait
    spinner loading
Baca Juga
spinner loading
Features
    spinner loading