Alasan Investor Tech 'Wajib' Punya Saham Tambang Ini di Era AI

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
29 January 2026 11:36
Pluang
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2026 sering disebut sebagai tahun pematangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sebagai investor teknologi, portofolio Anda mungkin sudah penuh dengan nama-nama besar "The Magnificent Seven" atau saham di sektor semikonduktor, sehingga Anda merasa aman karena memegang masa depan. Meski begitu, ada sebuah risiko tersembunyi (blind spot) yang jarang dibicarakan di forum teknologi yakni hambatan fisik.

Pada dasarnya, AI bukanlah entitas magis yang hidup di awan (cloud). Cloud itu sendiri merupakan bangunan fisik nyata berupa Data Center raksasa yang berisi ribuan rak server, unit pendingin (cooling systems), dan yang paling krusial yaitu jutaan kilometer kabel. Bahan dasar utama untuk menghantarkan listrik dan data di dalam infrastruktur raksasa tersebut adalah tembaga (copper).

Ketika harga emas mencetak rekor tertinggi karena ketakutan inflasi, harga tembaga sedang bersiap meledak karena tingginya kebutuhan komputasi. Slide data pasar per pertengahan Januari 2026 menunjukkan fakta mengejutkan, yakni saham Southern Copper (SCCO) naik 84% dalam setahun terakhir.

Melihat hal itu, artikel ini akan mengupas cara terbaik untuk berinvestasi di gelombang kedua AI yang mungkin bukan lagi dengan membeli pembuat chip yang sudah mahal atau overvalued, melainkan dengan membeli penyedia bahan bakunya yaitu perusahaan tambang tembaga. Anda pun bisa melakukannya dengan mudah melalui aplikasi Pluang.

AI Boom is a Metal Boom: Menghubungkan Titik-Titik

1. The Power Hungry Beast

Satu pencarian di ChatGPT membutuhkan daya listrik 10 kali lipat dibandingkan satu pencarian di Google Search biasa. Model AI Generatif terbaru di tahun 2026 membutuhkan daya komputasi yang eksponensial.

● Implikasi: Hyperscalers (Microsoft, Amazon, Google) berlomba membangun data center baru.

● Fakta Slide: AI bukan cuma butuh software. Server, data center, dan chip, semuanya butuh logam.

● Peran Tembaga: Tembaga adalah konduktor listrik dan panas terbaik kedua setelah perak (tapi jauh lebih murah). Setiap upgrade kapasitas server berarti upgrade kabel tembaga (Elektrifikasi).

2. The EV Connection

Selain AI, revolusi kendaraan listrik (EV) juga belum mati.

● Fakta: Mobil listrik membutuhkan 4x lebih banyak tembaga dibanding mobil konvensional.

● Sinergi: Elektrifikasi transportasi dan elektrifikasi AI berjalan bersamaan, menciptakan "Supercycle Demand" untuk Tembaga yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Bagi investor teknologi, mengabaikan Tembaga sama saja dengan bertaruh pada mobil balap (Software AI) tapi lupa memastikan ada jalan aspal (Infrastruktur Listrik) untuk dilalui mobil tersebut.

Analisis Supply & Demand: Mengapa Harga Harus Naik?

Hukum ekonomi teknologi biasanya adalah deflasi (harga teknologi semakin murah seiring waktu). Namun, hukum ekonomi sumber daya alam adalah inflasi (makin langka, makin mahal).

Supply < Demand (Defisit Struktural)

Data pasar menunjukkan fenomena klasik: Demand naik gila-gilaan karena AI dan EV, tapi Supply (jumlah tambang baru) sangat terbatas.

● Membuka tambang tembaga baru butuh waktu 10-15 tahun dari eksplorasi sampai produksi.

● Kita tidak bisa "mencoding" tambang baru dalam semalam seperti membuat aplikasi.

● Kesimpulan: Kelangkaan fisik ini akan memaksa harga Tembaga naik untuk menyeimbangkan pasar.

China Back in the Game

Faktor lain yang sering dilupakan investor tech Barat adalah China.

● Stimulus serta policy support (dukungan kebijakan) China ke infrastruktur dan industri kembali digencarkan.

● Ketika pabrik dunia ini mulai menyedot tembaga lagi, persaingan memperebutkan stok tembaga antara perusahaan teknologi AS dan industri China akan semakin ketat.

Bedah Emiten: The "NVIDIA" of Mining Stocks?

Jika Anda biasa menganalisis saham teknologi berdasarkan P/E Ratio atau pertumbuhan Revenue, mari kita terapkan logika yang sama ke saham tambang Tembaga yang tersedia di Pluang US Stocks (GSS).

1. Southern Copper Corp (Ticker: SCCO)

● Profil: Salah satu produsen tembaga terintegrasi terbesar di dunia dengan cadangan tembaga terbesar.

● Kinerja 1Y: +84%.

● Analisis Tech: Bayangkan SCCO sebagai perusahaan dengan "IP" (Intellectual Property) berupa cadangan tanah yang tak tergantikan. Di dunia di mana setiap ons tembaga diperebutkan, pemegang cadangan terbesar adalah raja. Kenaikan 84% ini mencerminkan pasar yang mulai sadar akan nilai strategis cadangan tersebut.

2. Freeport-McMoRan (Ticker: FCX)

Ini adalah saham yang paling menarik bagi investor Indonesia.

● Aset Utama: Tambang Grasberg di Papua, Indonesia. Ini adalah tambang industrial & precious metal terbesar di dunia.

● Katalis 2026: Per 2026, Grasberg diproyeksikan kembali beroperasi penuh setelah periode halt sementara.

● The Lagging Opportunity: Biasanya, harga komoditas (Copper & Gold) naik duluan, baru harga saham FCX menyusul setelahnya.

● Artinya: Saat ini mungkin terjadi dislokasi harga. Jika Anda melihat harga Tembaga sudah terbang tapi FCX belum, FCX adalah "Gateway ke Copper & Gold upside" yang masih diskon. Bagi investor tech yang suka mencari undervalued gem, ini adalah peluang emas (atau tembaga).

Strategi 'Pick and Shovel' di Era Emas Digital

Dalam sejarah Gold Rush di California abad ke-19, orang-orang yang paling konsisten kaya bukanlah para penambang emas (yang nasibnya untung-untungan), melainkan penjual sekop dan pacul (Pick and Shovel) kepada para penambang.

Di Era AI Gold Rush tahun 2026:

● Penambang Emasnya: OpenAI, Microsoft, Google, Meta (Berjuang keras, bakar duit, kompetisi ketat).

● Penjual Sekopnya: NVIDIA (Jual Chip), dan Perusahaan Tambang Tembaga (Jual kabel/infrastruktur).

Pada akhirnya, membeli saham FCX atau SCCO di Pluang adalah strategi Pick and Shovel yang paling murni. Tidak peduli siapa yang memenangkan perang AI (apakah ChatGPT atau Gemini atau Claude), semuanya pasti membutuhkan kabel tembaga untuk menjalankan server mereka.

Investasi di Tembaga adalah investasi "Agnostik Platform". Anda menang siapapun pemenang perang AI-nya.

Eksekusi Taktis dengan Fitur Pluang

Dunia teknologi bergerak 24 jam. Berita tentang kontrak baru data center atau gangguan suplai tambang bisa terjadi kapan saja.

1. 24-Hour Market: Jangan Terkunci Jam Bursa

Pasar saham AS normalnya buka jam 21.30 WIB. Tapi berita sering keluar di siang hari WIB (pagi hari di Eropa/Asia).

● Gunakan fitur 24-Hour Market di Pluang untuk saham-saham AS tertentu.

● Jika ada berita bahwa China memborong tembaga (China Back in the Game), Anda bisa langsung membeli FCX di siang hari WIB, mendahului pembukaan pasar AS malam harinya. Kecepatan adalah Alpha.

2. Fractional Shares: Diversifikasi Presisi

Saham Freeport (FCX) mungkin harganya sekitar $60 per lembar.

● Di Pluang, Anda bisa membeli mulai dari pecahan 0,1 unit.

● Ini memungkinkan Anda membuat "Mini ETF AI Infrastructure" sendiri. Misal: 50% NVIDIA, 25% FCX, 25% SCCO.

3. USD Yield: Parkir Profit Tech

Sektor teknologi sangat volatil. Jika saham tech Anda naik tinggi:

● Lakukan Taking Profit.

● Simpan dana di saldo USD dan aktifkan USD Yield.

● Dapatkan bunga ~3.38% p.a. sambil menunggu koreksi harga (dip) pada saham tambang FCX untuk masuk di harga terbaik.

Risiko: Apa yang Bisa Salah?

Setiap investasi ada risikonya, termasuk Tembaga.

1. Resesi Global: Jika ekonomi dunia melambat drastis (Hard Landing), permintaan barang elektronik turun, harga tembaga bisa terkoreksi. Namun, permintaan AI bersifat struktural (jangka panjang) yang mungkin lebih tahan banting.

2. Geopolitik: Nasionalisasi tambang di negara Amerika Latin bisa mengganggu suplai SCCO. Inilah mengapa diversifikasi ke FCX (yang aset utamanya di Indonesia, negara yang relatif stabil dan pro-hilirisasi) menjadi penting.

Lengkapi Puzzle AI Anda

Portofolio teknologi tanpa eksposur ke Tembaga ibarat mobil Tesla tanpa baterai: Terlihat canggih, tapi tidak bisa jalan.

Revolusi AI di tahun 2026 bukan lagi sekadar kode dan algoritma. Ia telah bermanifestasi menjadi kebutuhan fisik yang rakus sumber daya alam. Tembaga (Copper) adalah enabler utama dari semua mimpi masa depan tersebut.

Dengan kinerja +84% (SCCO) dan potensi pemulihan penuh Grasberg (FCX), saham tambang tembaga menawarkan peluang pertumbuhan yang setara dengan saham teknologi, namun dengan valuasi yang sering kali lebih rasional.

Jangan biarkan portofolio Anda tidak seimbang. Buka aplikasi Pluang, masuk ke menu US Stocks, dan mulailah melirik FCX atau SCCO. Jadilah investor teknologi yang memahami Full Stack Investment: Dari Chip di awan, hingga Tembaga di dalam tanah.

Untuk diketahui, Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan/atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mau Tahu Cara Main Crypto? Begini Panduan & Strategi untuk Pemula


Most Popular
Features