Bursa Asia Kompak Ambruk, Kospi Anjlok Lebih dari 8%
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), dengan tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok lebih dari 8% hingga tergelincir ke bawah level 5.000.
Sementara itu, melansir CNBC indeks Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 2%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga melemah 0,9%.
Pelemahan bursa Asia terjadi setelah aksi jual besar-besaran di Wall Street pada perdagangan Kamis (5/11/2026), yang membuat tiga indeks utama mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025.
Indeks Nasdaq Composite terjun 5,5% dan ditutup lebih dari 10% di bawah level tertinggi terbarunya, sehingga resmi memasuki wilayah koreksi. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 4,4% dan Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 1.800 poin atau 3,4%.
Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 ditutup di zona merah, dengan saham-saham perusahaan yang terkait pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mengalami tekanan paling besar. Kemenangan besar Partai Demokrat di DPR dan Senat Amerika Serikat (AS), serta sejumlah pemilihan gubernur di negara bagian penting seperti Texas, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi perlambatan pembangunan pusat data.
Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing anjlok sekitar 17%, sementara perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan CoreWeave terkoreksi 10%. Tekanan juga menghantam kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar Magnificent Seven, dengan Nvidia merosot 9% hingga berbalik mencatatkan kinerja negatif sepanjang 2026.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar gabungan kelompok Magnificent Seven menyusut lebih dari US$1 triliun. Ketiga indeks utama Wall Street juga berada di jalur penurunan sepanjang pekan ini, dengan Nasdaq terkoreksi 4,4% dan S&P 500 melemah hampir 3% secara mingguan.
Adapun Dow Jones menjadi indeks dengan kinerja relatif lebih baik, meskipun masih terkoreksi 0,5% sepanjang pekan berjalan. Di tengah tekanan tersebut, Chief Investment Officer G Squared Private Wealth Victoria Greene menilai pelemahan saham teknologi justru dapat menjadi peluang untuk membeli saham dengan harga lebih murah.
Menurut Greene, perdagangan saham berbasis AI belum berakhir dan koreksi saat ini memberikan kesempatan bagi investor untuk masuk ke pasar. Dia juga tertarik pada saham-saham memori karena sejumlah manajemen perusahaan sepanjang musim laporan keuangan menyampaikan adanya keterbatasan kapasitas produksi.
Greene menilai pembelian saham ketika mengalami koreksi tajam berpotensi memberikan keuntungan selama perekonomian masih berada dalam kondisi tanpa resesi. Namun, investor masih akan mencermati katalis ekonomi berikutnya dari AS, yakni laporan ketenagakerjaan atau nonf arm payrolls periode Oktober yang dijadwalkan dirilis Jumat pagi waktu setempat.
Konsensus Dow Jones memperkirakan ekonomi AS menambah 59.000 tenaga kerja pada Oktober 2026. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,2%.
(rob/rob)