Rupiah Dibuka Rp18.128 per Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (30/10/2026), setelah sempat menguat pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.128/US$, melemah 0,02% dibandingkan penutupan Kamis (29/10/2026) di posisi Rp18.125/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,30% ke posisi 101,731.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap data pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang baru dirilis pada Kamis (29/10/2026).
Ekonomi AS tumbuh 3,4% secara annualized pada kuartal III-2026, meningkat dari 2,2% pada kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2%.
Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS meningkat menjadi 3,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September, dari 3,4% pada Agustus. Inflasi PCE inti juga naik menjadi 3,1% dari 3,0%.
Pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi dan inflasi yang masih tinggi berpotensi membuat Federal Reserve (The Fed) lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga. Kondisi ini dapat menjaga daya tarik aset berbasis dolar AS dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjelang pertemuan November 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa keputusan suku bunga acuan akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi domestik dan global, bukan otomatis mengikuti langkah Federal Reserve (The Fed).
"Data dependent, nanti kita lihat perkembangannya seperti apa. Karena kita punya kebijakan kan banyak ya instrumennya," ujar Destry seusai menghadiri Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI juga menyiapkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mulai dari insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini menjadi perhatian ketika tingginya imbal hasil obligasi AS dan ketidakpastian global masih membayangi pergerakan mata uang negara berkembang.
(rob/rob)