MARKET DATA

Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp17.950

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 August 2026 09:04
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil mengawali perdagangan pekan ini di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (3/8/2026), rupiah terapresiasi sebesar 0,22% ke posisi Rp17.950/US$.

Penguatan tersebut melanjutkan momentum positif pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (31/7/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,47% ke level Rp17.990/US$ dan berhasil kembali bergerak di bawah level psikologis Rp18.000/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,22% ke posisi 99,697.

Pergerakan rupiah pada awal pekan ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh sentimen baik dari dalam maupun luar negeri. Dari eksternal, mata uang Garuda mendapatkan angin segar dari pelemahan indeks dolar AS.

Tekanan terhadap greenback terjadi setelah Jepang dan AS melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang yen yang berada di sekitar posisi terlemahnya dalam 40 tahun terakhir.

Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi intervensi pembelian yen bersama pada Jumat pekan lalu. Data Bank of Japan (BOJ) juga menunjukkan Jepang kemungkinan membeli yen senilai US$58,97 miliar pada Kamis.

Langkah tersebut mendorong yen menguat 1% hingga menyentuh 156,01 per dolar AS pada perdagangan Asia pagi ini. Dalam dua hari perdagangan terakhir pekan lalu, yen telah melonjak lebih dari 3%.

Penguatan yen ikut menekan dolar AS. DXY tercatat merosot lebih dari 1,5% sepanjang pekan lalu dan kembali bergerak di bawah level 100 pada perdagangan pagi ini.

Selain itu, pelaku pasar tengah menantikan pengumuman data inflasi Juli 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli.

Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 3,2%. Sementara inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,77% secara tahunan.

Pada Juni, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,44% secara bulanan dan 3,34% secara tahunan. Inflasi inti tercatat 2,76% secara tahunan, sedangkan kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,41% secara bulanan.

Hasil polling tersebut menunjukkan inflasi umum diperkirakan melandai secara bulanan maupun tahunan. Berbeda dengan inflasi umum, inflasi inti diproyeksikan naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya.

Meredanya tekanan inflasi terutama ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi 1,12% secara bulanan, berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.

"Kami memperkirakan harga volatile food turun 1,12% secara bulanan, terutama didorong oleh penurunan harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki puncak musim panen," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.

Data inflasi Juli nantinya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Selain inflasi, BI juga akan mencermati stabilitas rupiah, perkembangan ekonomi global, dan arus modal asing sebelum mengambil keputusan suku bunga.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.055


Most Popular
Features