Rupiah Menguat, Buat Dolar AS Turun ke Rp17.570
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (9/9/2026), rupiah terapresiasi 0,31% ke posisi Rp17.570/US$.
Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif pada perdagangan Selasa (8/9/2026), ketika rupiah berbalik dari pelemahan pada pagi hari dan ditutup menguat 0,03% ke level Rp17.625/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 98,795.
Pergerakan rupiah hari ini berlangsung ketika pelaku pasar menantikan rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan data tersebut pada pukul 10.00 WIB. IKK diperkirakan meningkat tipis menjadi 117 pada Agustus, dari 116,8 pada Juli.
Keyakinan konsumen sebelumnya turun selama tiga bulan berturut-turut hingga menyentuh posisi terendah sejak April 2025. Penurunan dipengaruhi melemahnya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, pembelian barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan kerja.
Meski menurun, IKK masih berada di atas level 100. Posisi tersebut menunjukkan konsumen Indonesia masih berada dalam zona optimistis.
Kenaikan IKK menuju atau melampaui proyeksi 117 dapat memperkuat keyakinan terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi domestik. Kondisi tersebut berpotensi menopang sentimen terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk rupiah.
Sebaliknya, penurunan lanjutan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap daya beli dan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari pasar global, dolar AS bergerak relatif stabil ketika pelaku pasar mencermati kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 4,804%. Kenaikan imbal hasil dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Namun, laju dolar tertahan oleh penguatan tajam yen Jepang. Yen telah menguat hampir 5% sejak pekan lalu dan sempat mencapai 152,89 yen/US$, posisi terkuatnya sejak Februari.
Penguatan yen didorong ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), pemulangan dana investor Jepang dari luar negeri, serta pembalikan transaksi carry trade. Pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada pertemuan 17-18 September.
Kenaikan yen turut menahan DXY karena mata uang Jepang merupakan salah satu komponen utama dalam indeks dolar AS.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada data inflasi produsen dan konsumen AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi rangkaian indikator terakhir sebelum bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menggelar FOMC pada 15-16 September mendatang.
Pelaku pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini, setelah laporan tenaga kerja AS periode Agustus lebih kuat dibandingkan perkiraan.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk turut menjadi perhatian karena berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Harga minyak Brent bertahan di sekitar level tertinggi dalam enam pekan, mendekati US$98 per barel.
Inflasi AS yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak dapat memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed sekaligus mengangkat dolar. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan rupiah dalam perdagangan berikutnya.
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]