MARKET DATA

Bursa RI Potensi Turun Kelas, OJK Bongkar Kejanggalan Ancaman MSCI

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
30 October 2026 06:45
Ketua DK OJK,  Friderica Widyasari Dewi dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri, 21 Oktober 2026. (Tangkapan Layar Youtube)
Foto: (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mnengaku heran pada pernyataan MSCI yang meyebut bursa status saham RI dapat turun kelas menjadi standalone market. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan Indonesia telah memenuhi 16 dari 18 indikator dalam penilaian lembaga pemeringkat global tersebut.

"Di MSCI announcement di bulan Juni 2026, mereka melakukan review terhadap berbagai market di dunia, termasuk di Indonesia. Ini dari 18 indikator atau parameter, kita itu sudah fulfill 16 dari 18 indikator," ujarnya dalam acara Rapimnas Kadin, dikutip Jumat (30/10/2026).

Friderica menjelaskan, dalam pengumuman Juni 2026 MSCI menyatakan akan mempertimbangkan sejumlah opsi perlakuan terhadap pasar Indonesia jika kemajuan belum memadai pada tinjauan indeks November 2026. Namun pada 15 Oktober waktu New York, atau 16 Oktober dini hari waktu Indonesia, muncul pengumuman bahwa Indonesia berpotensi turun bukan hanya dari emerging ke frontier market, tetapi ke standalone market.


Padahal, menurutnya, hasil survei MSCI menunjukkan Indonesia bahkan lebih baik dibanding beberapa pasar lain yang disurvei.

Ia membandingkan Indonesia dengan negara-negara di tiap kategori. saat ini, Indonesia berada di emerging market bersama Malaysia, Korea, Turki, dan Filipina, dengan pertumbuhan ekonomi yang disebutnya salah satu terbaik, inflasi terkendali, dan kapitalisasi pasar terbesar di kelompok itu.

"Bisa dilihat dari GDP growth-nya, Indonesia, we are one of the best. Inflation-nya juga sangat terkendali, central bank policy rate. Market cap-nya juga size-nya cukup besar dibandingkan bahkan kalau dilihat dari sini kita sangat paling besar," ungkapnya.

Selain itu, ketentuan free float minimum Indonesia 15%, sementara negara lain berkisar 10% hingga 25%. Hanya Indonesia dan Hong Kong yang memiliki daftar high shareholder concentration, dan keterbukaan kepemilikan saham dimulai dari 1%, sedangkan di pasar lain baru dari 5%.

Friderica lalu mempertanyakan terkait Indonesia yang nantinya akan sepadan dengan negara seperti Zimbabwe, Ukraina yang sedang perang, atau Argentina yang inflasinya lebih dari 33%.

"Kemudian berbandingan dengan frontier market yang di situ ada Vietnam dan Pakistan, ya. Kemudian bandingkan dengan standalone, apakah Indonesia itu sepadannya dengan negara-negara seperti Zimbabwe, negara-negara seperti Ukraina yang lagi perang, atau Argentina, yang kemudian inflasinya sampai dengan lebih dari 33%? Ini sesuatu yang harus kita renungkan," tutupnya.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Hashim Peringatkan Efek RI Turun Kelas MSCI: Dana Asing Bisa Kering


Most Popular
Features