IHSG Ditutup di Zona Hijau, Naik 0,31% ke 5.282,31

Annisa Rini, CNBC Indonesia
Rabu, 28/10/2026 16:05 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (28/10/2026). IHSG naik 16,18 poin atau 0,31% ke level 5.282,31.

Pada pembukaan perdagangan hari ini IHSG dibuka melemah di level 5.249,07 dan tertekan pada sesi pertama. Indeks bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh titik terendah hariannya di kisaran 5.170-an menjelang tengah hari.

Memasuki sesi kedua, tekanan jual mereda. IHSG berbalik arah, naik bertahap, lalu melewati level penutupan sebelumnya dan bergerak di zona hijau sampai akhir perdagangan. Penguatan makin kuat menjelang penutupan, hingga indeks mencetak level tertinggi hariannya di 5.282.


Aktivitas perdagangan hari ini mencatat volume 302,18 juta lot dengan nilai transaksi Rp14,48 triliun.

Mengutip data Refinitiv, saham yang mendorong penguatan indeks di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Sementara, saham pemberat IHSG hari ini di antaranya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Sejumlah sentimen yang memengaruhi pasar keuangan global dan Tanah Air hari ini antara lain keputusan suku bunga bank sentral AS The Fed, aksi demo mahasiswa, hingga jatuhnya minat lelang.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026

Sentimen terbesar hari ini akan datang dari The Fed. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September

Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.

Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik SBM.

2. Minat Lelang SBN Turun

Minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) merosot tajam pada Selasa (27/10/2026). Total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun, anjlok 52,1% dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Di tengah lesunya permintaan, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke 7,54%, tertinggi sejak November 2022. Angka ini naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 bps dibandingkan awal 2026.

Pemerintah hanya menyerap SUN sebesar Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan, sekaligus berpotensi membuat biaya utang baru pemerintah semakin mahal.

Jatuhnya minat SBN ini dikhawatirkan akan terus memicu outflow sehingga saham an rupiah melemah.

3. Laba Industri China Naik

Laba industri China naik 15,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi CNY 6,03 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 15,7% pada periode Januari-Agustus 2026.

Pertumbuhan laba masih ditopang oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta peralatan elektronik. Namun, permintaan domestik yang masih lesu terus membebani sejumlah industri.

Laba perusahaan milik negara meningkat 13,1% menjadi CNY 1,94 triliun. Sementara itu, perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat kenaikan laba sebesar 20,8% menjadi CNY 4,67 triliun. Adapun laba perusahaan swasta tumbuh 8,7% menjadi CNY 1,51 triliun.


(asr/asr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Jeblok ke Bawah 6.000, Sentimen Ini Jadi Penekan!