MARKET DATA

IHSG Sesi 1 Turun Nyaris 1%, Ini Penyebabnya

mkh,  CNBC Indonesia
29 June 2026 12:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum ada tenaga keluar dari zona merah hingga siang ini, Senin (29/6/2026).

Pada akhir perdagangan sesi 1, IHSG ditutup turun 57,18 poin atau -0,97% ke level 5.838,95. Sebanyak 399 saham turun, 257 naik, dan 303 tidak bergerak.

Nilai transaksi masih terbilang sepi, yakni Rp 4,02 triliun. Sebanyak 6,48 miliar saham berpindah tangan dalam 672.500 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 10.218 triliun. 

Sebagai informasi, pada awal perdagangan IHSG sempat naik 0,79% atau menyentuh posisi tertinggi harian di level 5.942,77. Akan tetapi tidak sampai 30 menit kemudian IHSG berbalik arah dan merosot semakin dalam. 

Tekanan jual masih menghantam sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya perbankan. BBCA yang mencatat nilai transaksi tertinggi hingga jeda makan siang hari ini, turun 2,43%. Begitu pula dengan BMRI dan BBRI yang masing-masing terkoreksi 1% dan 1,05%. 

Alhasil mengutip Refinitiv, BBCA menjadi pemberat utama IHSG siang ini dengan kontribusi -14,05 poin. Bobot BBCA terpaut cukup jauh dengan top laggards di posisi dua, yakni Sinar Mas Multiartha (SMMA) yang membebani sebesar -6,41 poin. 

Selain itu sejumlah emiten yang menjadi pemberat adalah BBRI, TLKM, BREN, BMRI, hingga BRPT.

Sementara itu, pagi tadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dan Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta, hingga Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu berkumpul Gedung DPR RI.

Pemerintah dan DPR telah menyepakati fokus kebijakan dalam jangka pendek, untuk memastikan pengendalian inflasi dan daya beli masyarakat, imbas masih besarnya tekanan ekonomi global.

Mari Elka mengatakan, fokus pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat ini menjadi sangat penting karena ketidakpastian ekonomi telah memberi sinyal yang jelas terkait potensi naiknya harga-harga barang.

Terutama imbas dari ketidakpastian harga komoditas, akibat konflik di Timur Tengah.

"Karena kita sudah lihat dari ketidakpastian global seperti harga minyak yang pengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat," paparnya.

Selain itu, pemerintah akan menempatkan kembali dana Rp281 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dana sebesar Rp100 triliun juga disiagakan jika perbankan tiba-tiba membutuhkan.

"Setelah dievaluasi bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi yang Rp 281 triliun dan diperpanjang hingga akhir 2026," kata Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam konferensi pers di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (29/6/2026).

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Sesi 2 Ditutup Menguat 0,41% ke Level 7.101


Most Popular
Features