MARKET DATA

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Masa, BI Buka Suara

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
28 October 2026 15:28
Logo Bank Indonesia (BI). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Logo Bank Indonesia (BI). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tekanan nilai tukar rupiah pada Rabu (28/10/2026) dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global.

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," ujar Erwin dalam pernyataan tertulis, Rabu (28/10/2026).

Menurut Erwin, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar dana dari pasar negara berkembang (emerging markets). Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi atau yield.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kekhawatiran investor atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," kata Erwin.

Meski menghadapi berbagai tekanan, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15%.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, yakni transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan transaksi spot.

Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari langkah stabilisasi.

"BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin.

BI juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.175/US$. Posisi tersebut menjadi rekor baru penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melewati rekor sebelumnya di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah


Most Popular
Features