MARKET DATA

RI Alami Halusinasi Daya Beli, Ekonom Ungkap Faktanya!

Dovana Hasiana,  CNBC Indonesia
20 October 2026 07:15
Sejumlah pengujung melintas di salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan, Senin, (28/7/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sejumlah pengujung melintas di salah satu mal di kawasan Jakarta Selatan, Senin, (28/7/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual, mengatakan konsumsi masyarakat Indonesia tengah mengalami fenomena lipstick effect.

Lipstick effect adalah fenomena psikologis dan ekonomi masyarakat, yang menggambarkan konsumen cenderung tetap membeli barang-barang mewah, namun dengan ukuran kecil dengan harga relatif terjangkau.  

Hal ini menyebabkan subsektor industri, seperti industri kecantikan dan perawatan diri (beauty and personal care) masih tergolong prospektif di Indonesia, meski daya beli menunjukkan sinyal negatif.

"Jadi justru dalam ekonomi yang menurun itu, lipstick effect terjadi," ujar David dalam Business Outlook 2027 yang disiarkan secara virtual, dikutip Selasa (20/10/2026).

Selain itu, subsektor lain yang masih prospektif akibat fenomena lipstic effect ini kata David adalah sektor teknologi; kreatif dan media digital, hingga barang konsumsi nonesensial seperti mebel dan dekorasi rumah.

Terjadi pula peningkatan di subsektor keterampilan dan pendidikan nonformal; layanan kebugaran, kesehatan mental, dan kesejahteraan; industri hewan; arsitektur, desain interior, renovasi; pariwisata dan rekreasi swasta; serta logistik khusus dan nonpangan.

Jadi ini sektor-sektor yang di luar sektor-sektor besar yang kita lihat secara big data performanya cukup bagus," ujarnya.

David pun membeberkan sejumlah indikator belanja yang menunjukkan sinyal negatif pada kuartal III-2026, dengan memanfaatkan data 34 juta nasabah bank.

Belanja masyarakat kata dia hanya tumbuh 1,4% secara tahunan (year on year) pada September 2026. Angkanya melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 1,8% (yoy) pada Agustus 2026.

"Memasuki kuartal 3 ini kecenderungannya melambat. Jadi trennya di September ini tumbuhnya hanya 1,4%," ujarnya.

Dari sisi pendapatan masyarakat itu sendiri, David mengatakan, juga terlihat melemah trennya, diukur dari BCA Income Index. "Memang trennya kecenderungannya menurun," kata David.

Sebelumnya, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo membantah daya beli masyarakat Indonesia tengah mengalami pelemahan.

Pernyataan ini ia sampaikan selepas mengadakan pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adhininggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026).

"Bisa saya sampaikan, itu tidak betul kalau daya beli di Indonesia itu melemah, salah," ucap Dradjad seusai pertemuan.

Dradjad mengaku kesimpulan itu ia dapat setelah mendapatkan sejumlah data dari BPS. Namun, ia tidak menyebut secara spesifik angka yang ia maksud dari setiap perolehan data.

"Jadi daya beli tidak melemah, buktinya banyak, saya tadi lihat bukti data-data, memang gak semua data bisa dipublikasi, tapi tadi saya lihat buktinya ya," kata Dradjad.

Ia hanya menegaskan, tidak adanya indikasi daya beli masyarakat Indonesia melemah bisa dilihat dari data pertumbuhan aktivitas sektor transportasi hingga pariwisata.

"Karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang halan-halan, halan-halan ya, jalan-jalan. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali, restoran dan hotel juga. Turisme juga meningkat, pariwisata meningkat sekali," tuturnya.

Selanjutnya, kuatnya daya beli masyarakat kata dia juga terlihat dari transaksi QRIS yang terus meningkat di atas 100%. Termasuk terkait dengan transaksi yang kini makin banyak beralih melalui ruang digital.

"Ya kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi, itu bukan daya beli melemah. Enggak, sangat-sangat enggak betul," papar Dradjad.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Terkoreksi Tipis, Turun 0,12% ke Level 6.343


Most Popular
Features