MARKET DATA

Asing Net Sell Rp1,05 T di Sesi I, Saham BBCA Paling Banyak Dilego

Redaksi,  CNBC Indonesia
19 October 2026 14:30
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing kembali melepas saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi I Senin (19/10/2026), di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga meninggalkan level psikologis 5.000.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp1,05 triliun di seluruh pasar hingga jeda siang. Nilai pembelian asing tercatat Rp3,86 triliun, sementara nilai penjualannya mencapai Rp4,91 triliun.

Aksi jual asing tersebut terjadi bersamaan dengan kejatuhan IHSG. Pada akhir sesi I, indeks berada di level 4.923,26, turun 261,84 poin atau 5,05% dari penutupan sebelumnya di 5.185,11. IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 4.907,37, sedangkan level tertingginya hanya 4.974,66.

Nilai transaksi sepanjang sesi pertama tercatat sekitar Rp9,65 triliun dengan volume 159,47 juta lot.

Tekanan jual asing paling besar menyasar saham perbankan berkapitalisasi jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell mencapai Rp670,83 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan net sell Rp515,17 miliar.

Jika digabungkan, net sell asing di dua saham bank tersebut mencapai sekitar Rp1,19 triliun, atau lebih besar dibandingkan total net sell asing di seluruh pasar. Artinya, di luar BBCA dan BBRI, asing secara agregat justru masih mencatatkan pembelian bersih di sejumlah saham lain.

Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyusul di posisi ketiga dengan net sell Rp205,54 miliar.

Berikut 10 saham dengan net sell asing terbesar pada sesi I:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp670,83 miliar
  2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp515,17 miliar
  3. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Rp205,54 miliar
  4. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp44,43 miliar
  5. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA): Rp38,24 miliar
  6. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ): Rp18,53 miliar
  7. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF): Rp15,68 miliar
  8. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp9,80 miliar
  9. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp8,53 miliar
  10. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Rp8,25 miliar

Di sisi lain, asing masih memburu sejumlah saham. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi saham yang paling banyak diborong dengan net buy Rp64,08 miliar. Menariknya, di tengah aksi jual saham bank besar, asing justru mengakumulasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan net buy Rp55,82 miliar.

Berikut 10 saham dengan net buy asing terbesar pada sesi I:

  1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Rp64,08 miliar
  2. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Rp55,82 miliar
  3. PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA): Rp43,22 miliar
  4. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Rp28,99 miliar
  5. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp25,76 miliar
  6. PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rp23,47 miliar
  7. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Rp17,74 miliar
  8. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP): Rp16,20 miliar
  9. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA): Rp15,28 miliar
  10. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM): Rp15,00 miliar

Tekanan di pasar saham domestik tak lepas dari sentimen pengumuman MSCI pekan lalu, yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. IHSG bahkan sempat ambles lebih dari 11% pada perdagangan Jumat (16/10/2026).

Rencana tersebut masih berada dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final. MSCI membuka ruang tanggapan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan, antara lain transparansi struktur kepemilikan saham, kemudahan akses bagi investor, hingga dugaan praktik perdagangan saham yang terkoordinasi. Jika Indonesia benar-benar keluar dari indeks MSCI Emerging Markets, pasar berisiko menghadapi arus keluar dana asing, terutama dari investor yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan.

Selain isu MSCI, pelaku pasar juga mencermati langkah penegakan aturan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pekan ini. Dari eksternal, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah serta rilis pertumbuhan ekonomi China kuartal III-2026 turut menjadi perhatian.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Ambruk, Asing Ternyata Net Sell Jumbo di 10 Saham Ini


Most Popular
Features