MARKET DATA

MSCI Bikin Bingung! Padahal Baru Bertemu Menkeu-Gubernur BI di Bangkok

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
16 October 2026 13:56
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Wamenko Perekonomian), Dradjad Hari Wibowo. (CNBC Indonesia/Dovana Hasiana)
Foto: (CNBC Indonesia/Dovana Hasiana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market membuat bingung pejabat pemerintahan tanah air.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo mengatakan, apa yang selama ini menjadi catatan MSCI untuk memperbaiki tata kelola pasar saham Indonesia padahal sudah dilakukan, termasuk penegakkan hukum yang lebih kuat di pasar modal.

"Jadi kita di dalam negeri kurang penegakan hukum apa lagi? Itu yang dilakukan Pak Presiden untuk memberantas. Sebagian yang di uang-uang yang ditunjukkan di belakang itu kan orang di pasar modal," kata Dradjad di kantornya, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

"Meskipun itu sama-sama, mungkin konglomerasi besar gitu, yang Pak Presiden berdiri di depan uang-uang yang dirampas negara, itu kan saham konglomerasi besar," tegasnya.

Dradjad mengatakan, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand, sebetulnya perwakilan MSCI juga telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dengan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. Namun, tetap saja pengumuman pertimbangan itu dikeluarkan MSCI.

Oleh sebab itu, Dradjad tidak mengetahui secara spesifik apa yang menjadi pertimbangan MSCI mengumumkan reklasifikasi terbaru.

"Saya enggak tahu, karena saya nggak ketemu mereka di Thailand. Saya kan jaga gawang di dalam negeri. Jadi mungkin nanti kalau ada Gubernur BI atau Pak Menkeu mungkin karena mereka yang sempat bertemu. Saya dengar sempat bertemu, saya nggak tahu pastinya," kata Dradjad.

Ia pun menegaskan, untuk mengambil langkah kongkrit merespons pengumuman MSCI, akan ada rapat koordinasi antara Kemenko Perekonomian dengan menteri keuangan hingga gubernur BI siang ini.

"Ya ini nanti akan dibahas, akan dirapatkan. Rinciannya, intinya tata kelola yang perlu kita perbaiki akan kita perbaiki. Tapi kita juga harus punya resiliensi di dalam negeri. Nggak hanya tergantung apa yang dibilang ini langsung panik. Intinya jangan panik, jangan gampang panik lah," paparnya.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengaku terkejut atas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Pasalnya, isu tersebut tidak dibahas dalam pertemuan antara sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan Indonesia dan MSCI di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10/2026).

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan, pertemuan yang digelar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) tersebut tidak hanya melibatkan MSCI, tetapi juga penyedia indeks global dan lembaga pemeringkat lainnya. Forum itu turut dihadiri sejumlah investor global serta perwakilan pemerintah, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Iding menjelaskan, diskusi dalam pertemuan tersebut berlangsung aktif dengan sebagian besar pertanyaan peserta berfokus pada kebijakan fiskal dan moneter serta reformasi badan usaha milik negara (BUMN). MSCI memang sempat mengajukan pertanyaan, tetapi pembahasannya terbatas pada efektivitas kebijakan dan penegakan aturan atau enforcement.

"Satu pertanyaan mengenai MSCI, ya memang kita memberikan kesempatan untuk masing-masing pihak, termasuk MSCI MSCI sewaktu itu mempertanyakan mengenai yang tadi saya sampaikan efektivitas dan enforcement gitu aja, jadi tidak ada signal gitu ya, bahwa oh ini ada kemungkinan di stand alone market," ujar Iding dalam konferensi pers BEI, di Jakarta, Jumat, (16/10/2026).

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BEI Kaget MSCI Mau Downgrade Saham RI, Padahal Baru Ketemu di Bangkok


Most Popular
Features