Bisnis Hilirisasi Antam (ANTM) Melesat, Ini Buktinya

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 18:45 WIB
Foto: Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Kamis (4/5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM mulai menuai hasil dari pengembangan hilirisasi. Perkembangan tersebut dinilai menjadi katalis baru bagi kinerja perseroan sekaligus saham ANTM.

Analis Phintraco Sekuritas Indra Setyadi menuturkan, ANTAM terus memperkuat hilirisasi pada ekosistem baterai dan aluminium. Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) antara lain mencakup proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) yang telah memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC), sedangkan proyek high pressure acid leach (HPAL) berada dalam tahap persetujuan investasi.

Visi besar ANTAM, kata dia, adalah membentuk rantai nilai baterai EV yang terintegrasi dengan dukungan mitra strategis.


Sementara itu, di ekosistem aluminium, Indra menuturkan, proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah telah beroperasi dan mencatat penjualan 350 ribu ton alumina pada semester I-2026, dengan target penjualan mencapai 700 ribu ton hingga akhir tahun.

"SGAR telah memberikan kontribusi laba Rp257,6 miliar ke ANTM melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) pada semester I-2026. Ke depan, potensi setoran laba meningkat seiring peningkatan produksi," ujar Indra dalam laporan riset, dikutip Kamis (15/10/2026).

Berdasarkan data resmi ANTAM, SGAR berlokasi di Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dan dikelola BAI, perusahaan patungan ANTAM dan Inalum. SGAR fase I memiliki kapasitas produksi 1 juta ton per tahun.

Sesuai rencana, sebanyak 550 ribu ton alumina dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik Inalum, sedangkan sekitar 450 ribu ton sisanya ditujukan untuk pasar ekspor.

Indra menilai geliat hilirisasi turut mendorong bisnis bauksit ANTAM karena kebutuhan bijih SGAR dipasok dari tambang perseroan. Pada semester I-2026, penjualan bauksit ANTAM meningkat 24,4% menjadi sekitar 1,3 juta wet metric ton (wmt), sejalan dengan mulai beroperasinya SGAR.

Di segmen hilir lainnya, penjualan feronikel meningkat 32% menjadi sekitar 7,6 ribu ton Ni, sedangkan penjualan chemical grade alumina naik 10,2% menjadi sekitar 100,4 ribu ton.

Secara keseluruhan, ANTAM membukukan pendapatan sebesar Rp62,71 triliun pada semester I-2026, tumbuh sekitar 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari segmen emas, diikuti nikel serta bauksit dan alumina. Laba bersih ANTAM mencapai Rp6,91 triliun, meningkat 34% dibandingkan semester I-2025.

Dengan pertumbuhan EBITDA serta peningkatan kontribusi laba entitas asosiasi, terutama dari BAI, Phintraco Sekuritas memperkirakan laba bersih ANTAM pada 2026 dapat mencapai sekitar Rp11,6 triliun, tumbuh 61,6%.

Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.840. Target tersebut mengimplikasikan PER 2026 dan 2027 masing-masing sekitar 10 kali dan 9,6 kali serta menawarkan potensi kenaikan sekitar 56%.

Sementara itu, Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir ANTAM I Dewa Bagus Sugata Wirantaya mengatakan, pengembangan hilirisasi terus diarahkan untuk memperkuat keterhubungan ekosistem antara sumber daya mineral ANTAM dengan industri pengolahan hingga produk hilir untuk mencitkan nilai tambah.

"ANTAM terus mengembangkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral yang kami miliki. Di ekosistem baterai kendaraan listrik, fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang telah mulai beroperasi pada 2026. Pada komoditas bauksit, perkembangan eksositem alumina menjadi penguatan rantai nilai bauksit hingga alumina, menjadi bagian penting dari upaya kami membangun portofolio bisnis yang semakin terintegrasi dan terdiversifikasi," ujar Dewa.

"Fokus kami adalah memastikan setiap pengembangan hilirisasi mampu memperkuat rantai nilai ANTAM sekaligus memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi pertumbuhan perseroan dan manfaat bagi Bangsa Indonesia. Karena itu, setiap proyek kami jalankan secara terukur agar penciptaan nilai dapat terus meningkat seiring penguatan operasi hilir," tambah Dewa.


(ayh/ayh)
Saksikan video di bawah ini:

Danantara Soal Kinerja BUMN: 97% Dividen Hanya Dari 15 Perusahaan