MARKET DATA

Bank Sentral China Borong Emas Terus, Kapan Harga Balik ke US$ 5.500?

Redaksi,  CNBC Indonesia
12 October 2026 12:55
FILE PHOTO: FILE PHOTO: Headquarters of the People's Bank of China (PBOC), the central bank, is pictured in Beijing, China September 28, 2018. REUTERS/Jason Lee/File Photo/File Photo
Foto: REUTERS/Jason Lee
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - China tengah memborong emas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bank sentral Negeri Tirai Bambu, People's Bank of China (PBOC), tercatat menambah cadangan emasnya selama 23 bulan berturut-turut, sementara impor logam mulia negara itu melonjak ke rekor tertinggi.

Mengutip CNBC International, Senin (12/10/2026), berdasarkan data State Administration of Foreign Exchange, PBOC membeli sekitar 23 ton emas sepanjang September 2026. Angka ini merupakan pembelian bulanan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir sekaligus memperpanjang rentetan pembelian terpanjang setidaknya sejak 2015.

Tak hanya bank sentral, rumah tangga dan korporasi China juga beralih ke emas sebagai aset lindung nilai. Data bea cukai menunjukkan China menghabiskan dana rekor US$158,8 miliar untuk mengimpor lebih dari 1.000 ton emas dalam delapan bulan pertama 2026. Nilai tersebut sudah melampaui total impor sepanjang 2025 yang sebesar US$96,5 miliar dengan volume 886 ton.

Kepala Strategi Emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, menyebut impor emas konsumen di China mencetak rekor pada periode Januari-Agustus tahun ini. Menurutnya, lonjakan premi harga emas di pasar domestik China menjadi sinyal permintaan musiman jelang musim dingin yang lebih kuat.

Gelombang pembelian ini justru terjadi ketika harga emas sedang terkoreksi. Harga emas anjlok lebih dari 8% pada September ke kisaran US$4.176 per troy ounce, setelah sempat mencetak rekor di atas US$5.500 pada Januari lalu. Adapun kontrak berjangka emas COMEX untuk pengiriman Desember 2026 terpantau di level US$4.217,40, naik tipis 0,03%.

Meski demikian, Doshi memperkirakan harga emas akan kembali menguat ke rentang US$4.750-5.500 per troy ounce pada akhir kuartal I-2027, ditopang permintaan yang solid.

Motif Politik dan Minimnya Alternatif Investasi

Analis Julius Baer Group, Carsten Menke, menilai motif utama PBOC bersifat politis. Ia merujuk pada penggunaan dolar AS sebagai senjata geopolitik serta keinginan Beijing untuk mengurangi ketergantungan pada surat utang pemerintah AS (US Treasury) sebagai aset cadangan.

Pembekuan aset bank sentral Rusia oleh negara-negara Barat usai invasi ke Ukraina pada 2022 menjadi pelajaran bahwa cadangan devisa yang disimpan di luar negeri rentan dibatasi saat terjadi gesekan geopolitik. Sebaliknya, emas yang disimpan di brankas sendiri relatif aman dari risiko tersebut.

Sejalan dengan upaya diversifikasi cadangan devisa, China terus melepas kepemilikan US Treasury. Data Kementerian Keuangan AS menunjukkan kepemilikan China turun ke level terendah dalam 18 tahun, yakni US$618 miliar per Juli.

Menke juga menyebut Beijing berencana memperdalam pasar emas domestik, sehingga mendorong bank sentral untuk menambah persediaan. Ia memperkirakan PBOC sebenarnya telah membeli sekitar 190 ton emas sepanjang tahun ini hingga akhir Agustus, termasuk 110 ton yang tidak dilaporkan.

Di sisi ritel, warga China yang cemas terhadap kondisi ekonomi berbondong-bondong membeli perhiasan, emas batangan, hingga koin emas. Pilihan investasi lain kian terbatas. Pasar properti yang dulu menjadi tempat utama penyimpanan kekayaan rumah tangga masih terjebak dalam kelesuan bertahun-tahun.

Indeks acuan CSI 300 tercatat melemah sekitar 8% sepanjang tahun berjalan, berbanding terbalik dengan S&P 500 yang menguat 13%. Imbal hasil deposito dan obligasi juga merosot di tengah lemahnya permintaan kredit. Yield obligasi pemerintah China tenor satu tahun turun ke kisaran 1,2%, jauh di bawah AS yang sekitar 4,46%.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai kondisi ini membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang emas di China jauh lebih rendah dibandingkan di banyak negara Barat.

Penahan Kejatuhan Harga

Permintaan dari China dinilai telah membantu emas bertahan dari tekanan yang seharusnya bisa menyeret harga lebih dalam. Tingginya yield AS biasanya menekan minat terhadap emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil. Secara umum, harga emas cenderung turun saat suku bunga naik.

Ahli Strategi Komoditas ING Bank, Ewa Manthey, menyebut pembelian dari China kini menjadi sumber penopang struktural bagi harga emas. Ia menjelaskan bank sentral membeli untuk jangka panjang dan jauh lebih tidak sensitif terhadap pergerakan harga dibandingkan investor ritel.

Senada, Menke mencatat harga emas masih bertahan di atas level musim panas lalu, meski ekspektasi suku bunga dan yield obligasi telah naik lebih tajam. Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sendiri telah memberi sinyal masih ada kenaikan suku bunga lagi pada 2026.

Meski agresif membeli, cadangan emas China masih tertinggal jauh dari AS. Berdasarkan data World Gold Council, China sebagai pemegang emas terbesar kelima di dunia memiliki 2.387 ton emas per Agustus, kurang dari sepertiga kepemilikan AS.

Risiko ke Depan

Hansen mengingatkan sejumlah faktor dapat meredam permintaan emas China. Di antaranya pulihnya kepercayaan terhadap pasar properti dan saham, pelemahan yuan yang membuat harga emas di dalam negeri lebih mahal, serta kenaikan suku bunga yang membuat deposito kembali menarik.

Perubahan yang lebih besar baru akan terjadi jika bank-bank sentral berhenti mendiversifikasi cadangan devisanya dan ketegangan geopolitik mereda. Namun, menurut Hansen, kedua skenario tersebut tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Lagi Loyo, Begini Tips Investasi Emas Buat Pemula


Most Popular
Features