MARKET DATA

Usai Bagi Dividen Jumbo, Analis Ungkap Prospek Bisnis Antam

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
12 June 2026 15:52
Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)
Foto: Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam telah memutuskan untuk membagikan dividen jumbo senilai Rp 5,04 triliun atau setara Rp 210 per saham dari laba tahun buku 2025. Hal ini telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dilaksanakan pada Rabu (10/6/2026).

Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menuturkan, secara fundamental, Antam masih memiliki posisi keuangan yang solid. Hal ini didukung oleh struktur neraca yang sehat dan likuiditas yang kuat.

Di samping itu, konsistensi Antam dalam membagikan dividen mencerminkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah yang optimal bagi para pemegang saham. Aksi korporasi ini pun menunjukkan sisi arus kas (cash flow) operasional perusahaan berada dalam kondisi yang tangguh.

"Ke depannya, profitabilitas Antam akan tetap terjaga berkat efisiensi biaya operasional yang terus dilakukan serta optimalisasi volume produksi pada komoditas inti mereka," ungkap dia kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026).

Selanjutnya, dia menilai bahwa prospek Antam masih cerah pada masa mendatang. Hal ini dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian geopolitik dan makroekonomi yang memicu kenaikan harga emas dunia.

Tak hanya itu, kebijakan suku bunga acuan dari The Fed nanti diharapkan mampu menjaga daya tarik emas sebagai aset safe haven. Kondisi ini membuat margin laba dari divisi pemurnian logam mulia Antam diprediksi akan sangat kuat pada tahun 2026.

Di sisi lain, regulasi terkait pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik juga bakal mempengaruhi kinerja Antam. Pasalnya, Antam juga berfokus pada bisnis nikel maupun feronikel yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Selain itu, melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Antam turut bekerja sama dengan CATL dan LG Energy Solution untuk mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Bahkan lanjutnya, kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor bahan mentah justru menguntungkan Antam, karena mereka sudah memiliki infrastruktur pengolahan (smelter feronikel) yang mapan.

Bukan hanya itu, Nafan juga melihat fenomena peningkatan minat masyarakat terhadap program cicil emas bakal memberikan dampak positif yang nyata bagi Antam. Sebagai produsen emas batangan Logam Mulia terbesar di Indonesia yang memiliki sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA), Antam jelas punya modal kuat baik dari sisi hulu maupun hilir.

"Banyak institusi perbankan, pegadaian, maupun platform digital yang menyediakan layanan cicil emas menyerap pasokan emas batangan mereka langsung dari Antam untuk menjaga standar kualitas dan kepercayaan nasabah. Ini tentu memperluas basis pasar ritel domestik Antam," kata Nafan.

Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menyebutkan, Antam masih memiliki fundamental solid mengingat diversifikasi emas, nikel, dan alumina menjadi keunggulan struktural bagi perusahaan. Keputusan pembagian dividen tunai yang mencapai Rp 5,04 triliun mencerminkan arus kas perusahaan yang sehat.

"Prospek masih positif. Katalisnya berasal dari harga emas yang masih di atas US$ 4.000, proyek SGAR beroperasi, dan pelemahan rupiah menguntungkan emiten dengan pendapatan dolar AS," ungkap Wafi.

Wafi juga menilai, program Cicil Emas akan berdampak langsung terhadap Antam. Sebab, Antam berpotensi memperoleh margin lebih tinggi dari volume penjualan lewat program tersebut. Ditambah lagi, kontribusi segmen emas mencapai lebih dari 60% terhadap total pendapatan Antam.

Tak hanya itu, Antam juga masih berstatus sebagai proxy saham emas di pasar Indonesia. Emiten ini memiliki keunggulan sebagai BUMN dengan porsi pangsa pasar emas terbesar di Indonesia, baik sebagai produsen di sektor hulu maupun penjual emas batangan di sektor hilir.

"Ya, (Antam) proxy emas terbaik di BEI. Lebih dari 60% pendapatan dari emas. Segmen nikel dan alumina juga menjadi buffer tambahan saat emas koreksi," imbuh dia.

Untuk ke depannya, Wafi bilang Antam perlu memastikan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dapat disetujui, produksi berjalan sesuai rencana, melakukan lindung nilai (hedging) sebagian pendapatan saat harga tinggi, serta mengefisiensikan All In Sustaining Cost (AISC). Bagi investor pemegang saham Antam, mereka juga perlu memantau perkembangan harga emas dunia dan kurs rupiah.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jadi Aset Safe Haven, Bisnis Emas Jadi Mesin Utama ANTAM


Most Popular
Features