Suku Bunga Global Belum Mau Turun, OJK Wanti-wanti Pasar RI

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 14:19 WIB
Foto: Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat menyampaikan Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB September 2026. (Tangkapan Layar Youtube/Otoritas Jasa Keuangan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah negara maju kini berada di level tertinggi. OJK mencatat yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan Eropa telah kembali ke level sebelum krisis 2008, di tengah tren suku bunga tinggi yang diperkirakan bertahan lebih lama.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara daring, Senin (5/10/2026).

Menurut Friderica, kenaikan yield dipengaruhi tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah di berbagai negara. Selain itu, penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk membiayai pengembangan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong kenaikan tersebut.


Di sisi suku bunga, OJK menilai kondisi global masih diwarnai pola higher for longer. Kebijakan moneter AS, Eropa, dan Jepang cenderung ketat, dan pasar masih memperkirakan suku bunga akan naik dan berlanjut hingga 2027.

Friderica menambahkan, pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025, meski lebih baik dari proyeksi sebelumnya. Investasi dan perdagangan terkait AI menjadi penopang.

Namun, keberlanjutan momentum pertumbuhan masih menghadapi tantangan dari kenaikan inflasi global akibat eskalasi geopolitik dan fenomena El Nino yang sangat kuat (very strong). Kondisi ini mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian.

Meski demikian, OJK menilai sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak & Inflasi AS Melonjak, Suku Bunga The Fed Naik