IHSG Ditutup Anjlok 1,02%, Simak 5 Pilihan Saham Hari Ini
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,50 pada perdagangan Kamis (1/10). Saham DSSA naik 4,67%, CASA menguat 4,72%, dan VKTR tumbuh 4,43% menjadi leading movers. Sebaliknya, GOTO turun 12,50%, BBCA melemah 1,23%, dan BRMS terkoreksi 6,78% sebagai lagging movers.
Investor asing mencatatkan net sell Rp240,43 miliar di pasar reguler dan Rp241,86 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, sembilan dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Technology mencatat penurunan terdalam sebesar 3,93%, sementara Energy menjadi sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 0,31%.
Di bursa AS, Dow Jones bergerak relatif datar dengan kenaikan 0,04% ke level 50.926. S&P 500 naik 0,19% ke 7.666, sedangkan Nasdaq menguat tipis 0,04% ke 26.871.Â
Di pasar domestik, tekanan indeks turut datang dari aksi jual asing pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk GOTO, BBCA, BBRI, AMMN, TLKM, ASII, BYAN, dan UNTR. Perubahan harga saham setelah penghapusan batas bawah Rp50 serta dimulainya perdagangan short selling juga menjadi perhatian pasar.Â
Sementara itu, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing turun 1,02% dan 1,28%.
Dari sisi emiten, ada Golden Energy Mines (GEMS) yang menargetkan produksi sekaligus penjualan batu bara mencapai hingga 58 juta ton pada 2026. Target tersebut melanjutkan realisasi produksi 2025 yang meningkat 8,38% secara tahunan menjadi 54,95 juta ton, dari 50,70 juta ton pada 2024.
Target GEMS ditetapkan di tengah rencana pemerintah menekan produksi batu bara nasional di bawah 700 juta ton. Pada saat yang sama, permintaan dari dua pasar ekspor utama, China dan India, diproyeksikan melambat seiring peningkatan produksi domestik dan efisiensi energi di kedua negara.
Pada 2025, ekspor berkontribusi sekitar 65% terhadap penjualan GEMS, dengan China menyumbang 52%, India 6%, dan negara lainnya 7%. Sementara itu, pasar domestik berkontribusi 35%. Menghadapi kondisi tersebut, perseroan mulai membidik pasar alternatif, salah satunya Filipina, dengan harga batu bara pada 2026 diperkirakan relatif stabil.
Lalu ada juga Pelayaran Nasional Bina Buana Raya (BBRM) yang telah menyelesaikan pembelian satu unit kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) MP Maverick jenis 80T BP dengan kapasitas 6.000 BHP dari Great Union China Limited senilai USD12,10 juta. Kapal tersebut telah diserahterimakan dan siap beroperasi.
Transaksi tersebut didanai melalui pinjaman investasi dari Bank IBK sebesar Rp120 miliar. Harga pembelian kapal berada di bawah nilai pasar berdasarkan penilaian independen KJPP sebesar Rp230,91 miliar per 28 September 2026.
Nilai transaksi setara 31,80% dari ekuitas BBRM per 31 Desember 2024 yang tercatat sebesar USD38 juta. Angka tersebut menjadi dasar materialitas transaksi karena perjanjian pembelian awal telah ditandatangani pada 30 Oktober 2024, sehingga transaksi tidak memerlukan persetujuan RUPS.
Penambahan kapal AHTS ini memperkuat segmen kapal penunjang lepas pantai BBRM. Segmen tersebut menyumbang USD6,21 juta atau sekitar 93,41% dari pendapatan perseroan pada 1H26, meningkat 13,67% secara tahunan dari USD5,46 juta pada 1H25. Sebaliknya, pendapatan dari segmen self-propelled barge turun 69,20% menjadi USD0,44 juta.
Sementara itu, Berlina (BRNA) tengah melaksanakan rights issue atau PMHMETD III sebanyak-banyaknya 543,95 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp685 per saham. Dengan demikian, nilai emisi maksimal mencapai Rp372,61 miliar.
Dalam aksi korporasi tersebut, BRNA juga menerbitkan 181,32 juta Waran Seri I secara cuma-cuma dengan rasio 3:1. Waran tersebut memiliki harga pelaksanaan Rp800 per saham.
Sekitar 70,95% dari nilai emisi atau Rp264,38 miliar akan digunakan untuk melunasi pokok utang kepada pemegang saham utama PT Dwi Satrya Utama (DSU) melalui konversi utang menjadi saham atau set-off. Mekanisme tersebut tidak menghasilkan penerimaan kas bagi perseroan.
Sementara itu, dana tunai dari pemegang saham selain DSU akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja, termasuk pembelian bahan baku dan bahan penolong. Rasio HMETD ditetapkan sebesar 9:5, sedangkan pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi maksimum 35,71% setelah PMHMETD III.
DSU selaku pengendali sekaligus pembeli siaga, yang saat ini memiliki 54,57% saham BRNA, akan meningkatkan kepemilikannya menjadi 60,97% setelah pelaksanaan HMETD. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 14-21 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
-
ENRG - Buy 1395-1405 | TP 1435-1455 | SL 1325
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
COCO - Buy 108-110 | TP 113-115 | SL 102
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
GEMS - Buy 8075-8125 | TP 8250-8350 | SL 7625
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
DSSA - Buy 1105-1115 | TP 1135-1150 | SL 1055
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
BULL - Buy 342-346 | TP 352-358 | SL 324
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.Â
(ayh/ayh)