China Perketat Aturan IPO Perusahaan Robot, Kenapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas pasar modal China mulai memperketat syarat pencatatan saham (IPO) bagi startup robot humanoid. Kebijakan ini menandakan mulai mendinginnya salah satu sektor terpanas di pasar, di tengah kekhawatiran global soal gelembung (bubble) saham kecerdasan buatan (AI).
Menurut tiga sumber yang mengetahui pemikiran Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC), sebagaimana dilaporkan CNBC International, Selasa (29/9/2026), regulator menetapkan tiga kriteria khusus bagi startup embodied AI atau AI yang menyatu dengan perangkat fisik, seperti robot humanoid, yang ingin melantai di bursa.
CSRC meminta calon emiten memenuhi kriteria berikut:
- Memiliki pendapatan berkelanjutan dan pesanan komersial.
- Mampu mempersempit kerugian. Satu sumber menyebut perusahaan perlu menyodorkan proyeksi kinerja tiga tahun.
- Menguasai teknologi inti, seperti "otak" robot atau tangan robot.
Salah satu sumber mengindikasikan, perusahaan cukup memenuhi dua dari tiga kriteria tersebut. Meski demikian, belum jelas perusahaan mana yang mampu memenuhinya. Ekspektasi pun turun menjadi hanya segelintir startup, bahkan tidak ada sama sekali, yang bisa melantai di bursa.
Antrean Panjang di Hong Kong
Sedikitnya dua lusin perusahaan AI terkait humanoid telah mengajukan pencatatan saham di Hong Kong saja. Bursa Hong Kong sejak Mei 2025 memang membolehkan perusahaan teknologi mengajukan IPO secara rahasia. Namun, perusahaan daratan China yang ingin melantai di Hong Kong juga tetap memerlukan restu CSRC.
Baik otoritas bursa Hong Kong maupun CSRC belum menanggapi permintaan komentar.
Sorotan terhadap sektor ini meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama terkait valuasi startup humanoid yang melesat, yang ditopang campuran dana pemerintah dan swasta.
Unitree, yang disebut sebagai ikon industri ini, mendapat jalur cepat regulasi untuk melantai di Shanghai pada 19 Agustus, bertepatan dengan pembukaan World Robot Conference di Beijing. Perusahaan meraup sekitar 6,1 miliar yuan atau US$ 905 juta (sekitar Rp 16,3 triliun, kurs Rp 18.000/US$) dari IPO tersebut. Saham Unitree melonjak lebih dari 460% pada hari perdana dan ditutup di 845 yuan per saham.
Namun, harga sahamnya kini sudah turun hampir separuh. Pada Senin (28/9/2026), saham Unitree diperdagangkan di 459,65 yuan.
Sehari setelah pencatatan, pendiri Unitree Wang Xingxing mengingatkan bahwa komersialisasi robot humanoid di luar aksi hiburan seperti robot penari masih butuh waktu bertahun-tahun. Pernyataan itu memicu perdebatan tentang kemampuan riil robot humanoid, sekaligus apakah para startup di industri ini benar-benar mencetak laba.
Di Hong Kong, saham Ubtech yang melantai sejak Desember 2023 juga sudah anjlok lebih dari 40% sepanjang tahun ini. Perusahaan masih mencatat rugi operasional 279 juta yuan pada semester I-2026.
China kini memiliki lebih dari 100 perusahaan humanoid yang berada di bawah payung dorongan nasional untuk embodied AI. Istilah ini mendapat dukungan Beijing dalam dua laporan kerja pemerintah tahunan terakhir, meski otoritas juga sudah memperingatkan potensi gelembung di industri robot humanoid.
Data penyedia data industri Xiniu menunjukkan, investasi di sektor ini pada kuartal II-2026 mencapai 47,09 miliar yuan atau US$ 6,95 miliar (sekitar Rp 125,1 triliun). Angka itu lebih dari dua kali lipat kuartal I dan naik lebih dari enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Turunnya harga saham kontras dengan derasnya arus modal ke perusahaan robotik humanoid dalam sekitar 12 bulan terakhir. Teknologi yang di China kerap disebut physical AI ini dipandang sebagai jalan bagi investor tahap awal untuk menikmati lonjakan minat terhadap model AI.
Analisis Rhodium Group bulan ini menemukan bahwa perusahaan AI China hanya menghasilkan sekitar 10% dari pendapatan Anthropic dan OpenAI. Rasio valuasi terhadap pendapatan, khususnya untuk startup AI China seperti Moonshot dan DeepSeek, jauh lebih tinggi dibandingkan pesaing mereka di AS.
Di tengah ekspektasi yang meningkat terhadap IPO raksasa AI AS, produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) pada Senin (28/9/2026) mengumumkan akan mengakuisisi World Labs senilai US$ 8,2 miliar (sekitar Rp 147,6 triliun) lewat transaksi saham. Startup yang didirikan pionir AI Fei-Fei Li itu mengembangkan model AI untuk membuat lingkungan virtual 3D yang banyak dipakai dalam pengembangan robot humanoid.
(fsd/fsd)