Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi "Strong Dollar"
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang negara-negara lain tengah mengalami penguatan.
Ia mengatakan, fenomena penguatan dolar hingga saat ini lebih disebabkan tren kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed), yang terakhir sudah ke level 3,75-4,00%.
"Belum lama ini the Fed juga naikkan suku bunga 25 bps dan kami masih perkirakan 1 kali lagi di kuartal IV. Ini mendorong penguatan pada dolar ke mata uang kuat lainnya, DXY capai 101,11, di Asia 96,26," kata Destry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Destry mengatakan, tren naiknya suku bunga acuan The Fed tak terlepas dari inflasi global yang terus terkerek naik. Hingga saat ini inflasi global ia sebut telah meningkat ke level 4,6%.
"Inflasi global meningkat 4,6% dan ini mendorong mengetatnya kebijakan moneter global," tegasnya.
Tingkat inflasi yang terdorong naik itu dipicu oleh harga komoditas energi yang naik disebabkan konflik di berbagai belahan dunia yang tak kunjung reda, khususnya di kawasan Timur Tengah.
"Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai US$ 125,53 per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran US$ 90,88 per barel," ujar Destry.
Di tengah kondisi itu, Destry menekankan, BI akan terus menjaga kebijakan moneter untuk mendukung stabilitas eksternal, sebab tekanan terhadap aliran modal asing kini terus terjadi efek dari tingginya suku bunga di AS.
"Kebijakan moneter akan lebih pro stability, lainnya kita arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," tegas Destry.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah kehilangan tenaga terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah terdepresiasi 0,22% ke posisi Rp17.920/US$.
Pergerakan tersebut membalikkan penguatan tipis pada Jumat (25/9/2026), ketika rupiah berhasil bangkit dari tekanan dan ditutup naik 0,03% di level Rp17.880/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada penutupan Jumat pekan lalu melemah 0,31% di level 100,971.
(arj/arj)