MARKET DATA

Rupiah Ditutup Koreksi 0,51%, Dolar AS Naik ke Posisi Rp17.885

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 September 2026 15:07
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah gagal keluar dari tekanan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat membawa dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp17.900 sebelum memperbaiki posisi menjelang penutupan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.885/US$ atau melemah 0,51%. Dibandingkan penutupan Rabu di Rp17.795/US$, rupiah mesti kehilangan 90 poin.

Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan ketika rupiah dibuka melemah 0,22% di posisi Rp17.835/US$. Pelemahannya kemudian membesar hingga sempat menyentuh posisi terendah hari ini di Rp17.900/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 101,061.

Meski terkoreksi, DXY masih bertahan di atas level 101 setelah melonjak 0,49% pada perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah hari ini datang dari faktor global maupun domestik. Dari luar negeri, pasar kembali memperhitungkan peluang pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek fiskal Negeri Paman Sam.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan perubahan ekspektasi suku bunga AS turut menekan rupiah.

"Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).

Kondisi tersebut mendorong imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil membuat aset keuangan AS kembali diminati dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Tekanan juga datang dari ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia kembali meningkat hingga mendorong harga minyak Brent menembus US$100 per barel.

Dari dalam negeri, meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III turut menambah permintaan terhadap dolar AS. Rupiah juga menghadapi tekanan dari arus keluar dana portofolio dari aset-aset negara berkembang atau emerging markets.

Menghadapi kondisi tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi sekaligus memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Langkah tersebut dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar.

Selain itu, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus diperkuat. Upaya tersebut diarahkan untuk mendorong aliran masuk modal asing dan mengelola kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Destry Sah Jadi Gubernur BI, Rupiah Bertahan di Rp17.710/US$


Most Popular
Features