Breaking News! IHSG Anjlok 2% di Awal Sesi 2

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 14:31 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada awal sesi 2 perdagangan Senin (14/9/2026). Per pukul 14.14 WIB, IHSG turun 2,02% atau 132,05 poin ke level 6.409,33.

Pelemahan IHSG telah terjadi setelah pembukaan, indeks sempat bergerak ke level tertinggi 6.543,28, namun kemudian terus mengalami tekanan jual hingga menyentuh level terendah 6.409,18.

Berdasarkan data BEI, terdapat 544 saham yang turun, jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat sebanyak 157 saham. Sementara itu, sebanyak 262 saham lainnya tercatat tidak mengalami perubahan.


Dari sisi aktivitas perdagangan, investor tercatat telah memperdagangkan sekitar 20,28 miliar saham dengan nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp9,479 triliun, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,387 juta kali. Adapun, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sekitar Rp11.196 triliun.

Tekanan terhadap IHSG juga seiring dengan aksi jual asing. Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) yang cukup besar, yaitu Rp664,34 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.

Aksi jual asing terbesar terjadi pada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan nilai mencapai Rp164,81 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang dilepas asing senilai Rp127,90 miliar - sejalan dengan saham BMRI yang turut menjadi penekan indeks hari ini - disusul PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebesar Rp124,55 miliar.

Tekanan terhadap IHSG juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mengancam pasokan energi dunia.

Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak. Kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz turut memperbesar risiko gangguan pasokan.

Harga minyak dunia yang telah menembus US$100 per barel pada pekan lalu berpotensi kembali menjadi perhatian investor. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.


(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sentimen Pendorong Pelemahan Rupiah - IHSG Terkoreksi Nyaris 2%