Risiko Geopolitik & Perlambatan Ekonomi Global Bayangi Pasar Keuangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih terjaga, kendati risiko geopolitik di Timur Tengah dinilai tinggi seiring Selat Hormuz yang hingga kini belum juga dibuka.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan tertutupnya Selat Hormuz turut memicu volatilitas harga komoditas dan mendorong inflasi global tetap tinggi, kondisi yang menurutnya diperparah oleh fenomena El Nino.
Di sisi lain, momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi. Amerika Serikat mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah ekspektasi pasar, disertai pelemahan pasar tenaga kerja. Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok melambat ke level 4,3% yoy, dengan indikasi pelemahan di sektor produksi maupun permintaan domestik.
Friderica juga menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di negara-negara maju, yang menurutnya dipicu oleh tingginya belanja modal (capex) perusahaan-perusahaan hyperscaler.
"Meski tekanan global cukup besar, stabilitas sektor jasa keuangan domestik masih terjaga," ujar Friderica dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar secara daring, Senin (7/9/2026).
Sebagai bagian dari agenda kebijakan, OJK juga menyampaikan tengah memperkuat implementasi reformasi pasar modal, termasuk proses demutualisasi bursa dan penguatan enforcement di sektor pasar modal.
(fsd/fsd)