MARKET DATA

Komisi Ojol dan Harga Gocap Jadi Isu, Ini Kata Bos GOTO Hingga Analis

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
31 August 2026 19:15
Dok GOTO
Foto: Dok GOTO

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasca mencetak laba bersih dua kuartal berturut-turut di tahun 2026, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dihadapkan pada tantangan dan babak baru yang datang dari regulasi komisi ojek online (ojol) maupun harga saham.

Emiten teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay tersebut berhasil mengantongi laba bersih semesteran pertama kali dalam sejarah di tahun 2026. Pada periode Januari - Juni 2026, laba bersih GoTo mencapai Rp608 miliar, membalikkan posisi dari rugi bersih Rp580 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meskipun sukses membuktikan model bisnisnya mampu mencetak bottom-line positif, kini perhatian pelaku pasar tertuju kepada keberlanjutan bisnis GoTo dengan adanya regulasi potongan komisi untuk aplikasi yang dipangkas menjadi sebesar 8% dari sebelumnya 20%.

Skema komisi terbaru telah berlaku untuk layanan angkutan roda dua sejak 1 Juli 2026. Sementara untuk layanan pengantaran makanan dan barang, pemerintah masih menyusun kerangka pengaturan yang disesuaikan dengan karakteristik bisnisnya, baik melalui Peraturan Presiden maupun aturan teknis dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya mengatakan pemerintah tengah mencari titik keseimbangan yang adil bagi mitra pengemudi maupun perusahaan aplikator dalam mengatur layanan pengantaran barang dan makanan.

"Kita coba pastikan bahwa semua proses itu berlangsung secara fair, sehingga pengemudi mendapatkan haknya ya dengan cukup fair dan juga platform bisa mendapatkan margin yang pantas sehingga mereka juga bisa sustain," ujar Nezar.

Di saat yang sama, GoTo juga dihadapkan dengan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menghapus aturan harga saham terendah yang dapat diperdagangkan di level Rp50 untuk semua papan pencatatan. Konsekuensinya, harga saham bisa jatuh ke level terendahnya di Rp1.

Kendati baru rencana, tetapi cukup menyita perhatian pasar mengingat harga saham GoTo diperdagangkan di level Rp50 lebih dari 3 bulan sejak pengumuman aturan komisi ojol dan pada akhirnya dikeluarkan dari seri indeks global FTSE maupun MSCI.

"Aturan komisi dan rencana floor price Rp50 dihapus memang jadi dinamika baru untuk GoTo dan investornya." ungkap Christian dari MNC Sekuritas. Namun Ia juga menegaskan bahwa aturan baru ini justru memiliki dampak positif untuk saham GoTo.

"Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu. Kontras dengan kondisi di Rp50 ketika ada antrean jual lebih banyak dari beli sehingga transaksi tidak matched" ungkapnya.

Christian melihat adanya potensi penurunan memang dapat memicu fenomena short term pain. Namun kabar baiknya likuiditas perdagangan bisa membaik, price discovery maupun price recovery atau harga saham berbalik menguat dapat terjadi.

"Dengan kondisi harga saham saat ini di Rp50 memang ada technical overhang, di mana passive fund yang harus keluar dari saham GoTo karena eksklusi FTSE dan MSCI, tetapi mereka tertahan. Dengan aturan baru, memungkinkan mereka bisa rebalancing, sehingga harapannya tidak ada lagi masalah overhang seperti ini" tambah Christian.

Senada dengan Christian, Abdul Aziz dari kiwoom Sekuritas juga menilai bahwa ketika aturan batas terbawah harga saham (floor price) diubah, tekanan mungkin muncul secara temporer karena technical overhang, akan tetapi setelah itu harga saham akan ditentukan oleh fundamental perusahaan.

"Saya melihat ruang GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay" ujar Abdul Aziz.

Namun Ia juga memandang bahwa kepastian regulasi memang menjadi sorotan pasar saat ini. Selagi regulasi masih memberikan ruang atau fleksibilitas kepada platform maka keberlanjutan bisnis bisa terjamin.

"Saat ini kepastian regulasi memang sangat dinanti. Ketika keberlanjutan ekosistem jadi prioritas regulasi, ini akan menjadi sentimen dan katalis positif untuk saham GoTo" tambah Abdul Aziz.

GoTo dinilai bisa mempertahankan momentum profitabilitas yang kuat jika regulasi masih memberikan fleksibilitas untuk menentukan pricing dan kualitas layanan. Abdul Aziz optimistis dengan skenario tersebut GoTo mampu mencapai target keuntungan EBITDA yang disesuaikan setahun penuh Rp3,2-3,4 triliun untuk 2026.

Di tengah perkembangan regulasi tersebut, pasar juga digemparkan dengan kabar Morgan Stanley yang memborong saham GoTo di harga Rp23 berdasarkan Keterbukaan Informasi (KI) 26 Agustus 2026.

Dengan demikian, Morgan Stanley menjadi salah satu pemegang saham GoTo dengan total kepemilikan sebanyak hampir 59,4 miliar unit atau setara hampir 5.2% dari total saham beredar.

Sebelumnya Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menegaskan Hans bisnis fintech perusahaan terus menunjukkan kinerja yang unggul. Profitabilitas fintech telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya, menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem GoTo.

"Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar," katanya, dalam siaran pers Juli lalu

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]
Next Article GOTO Tinggalkan Indeks MSCI, Ini Tanggapan Analis


Most Popular
Features