MARKET DATA

Sukses Cetak Laba Kedua Kali, GOTO Sebut Harga Saham Rp50 Undervalued

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
04 August 2026 15:48
Dok GOTO
Foto: Dok GOTO

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan pergerakan yang dipicu oleh ketidakpastian global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi acuan pasar modal Tanah Air, melemah akibat sentimen pasar yang tak kunjung reda.

Di tengah pergerakan IHSG yang terus disoroti oleh para investor, Chief Financial Officer (CFO) PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Simon Ho mengungkapkan harga saham GOTO yang saat ini masih berada di level Rp50 adalah salah satu dampak dari melemahnya pasar akibat ketidakpastian ekonomi. Simon memastikan level harga saham GOTO saat ini masih undervalued atau tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya.

"Harga saham kami saat ini undervalued, namun seperti yang bisa dilihat fundamental bisnis terus membaik. Pertumbuhan solid, profitabilitas meningkat, dan kami jelas telah membicarakan tentang mencapai laba bersih yang positif, dan bisnis fintech terus berjalan dengan sangat baik," jelas Simon dalam Economic Update CNBC Indonesia, dikutip Senin (3/8/2026).

Seperti diketahui, pada 31 Juli lalu, GoTo merilis laporan keuangan kuartal II-2026 di mana perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar, setelah sebelumnya mencetak laba bersih Rp171 miliar di kuartal I-2026. Nilai transaksi kotor atau gross transaction value/GTV inti grup tumbuh 83% year-on-year (YoY) menjadi Rp 164 triliun, sementara pendapatan bersih tumbuh 31% YoY mencapai Rp5,7 triliun. EBITDA grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya.

Simon menegaskan pencapaian ini adalah bukti dari kekuatan ekosistem GoTo yang terus menunjukan kinerja yang baik di tengah berbagai tantangan yang ada. Terlebih, perusahaan tengah dihadapkan pada babak baru industri ride-hailing setelah adanya pembatasan komisi aplikator sebesar 8% untuk bisnis roda dua angkutan penumpang. Simon memastikan GoTo mampu mengimbangi dampak dari penyesuaian regulasi tersebut.Untuk itu, dia optimistis, target kinerja GoTo tidak akan berubah dan masih sama seperti yang ditargetkan awal tahun.

"Kami di GoTo fokus pada pelanggan, bisnis, dan kinerja demi hasil yang memuaskan. Kami percaya bahwa seiring waktu, seiring kami terus berkinerja, kami percaya harga saham akan sesuai dengan fundamental bisnis," tegas Simon.

Dikutip dari laporan kinerja keuangan kuartal II-2026, GoTo tidak mengubah pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh, yakni masih di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Namun perseroan menurunkan pedoman kinerja layanan On-Demand services untuk setahun penuh menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun, sebagai dampak dari implementasi komisi 8%. Di sisi lain, kinerja Fintech lewat bisnis GoPay diprediksi akan menopang, sehingga GoTo menaikkan pedoman kinerja Fintech untuk setahun penuh menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.

"Namun, saya harus mengingatkan investor bahwa laba bersih kami juga dipengaruhi oleh faktor non-operasional, yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh perusahaan dan manajemen. Misalnya, kami juga memasukkan bagian hasil dari kepemilikan kami, kepemilikan 25% kami di Tokopedia. Sekali lagi, ini adalah operasi yang tidak kami jalankan dan kendalikan secara langsung," rinci Simon.

Untuk diketahui, GoTo baru-baru ini mengumumkan akan mengurangi modal dengan membatalkan 32,19 miliar saham treasuri hasil pembelian kembali (buyback) saham periode 2024-2025 Saham yang akan dibatalkan tersebut merupakan seluruh saham Seri A hasil pembelian kembali selama 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025. Sebelumnya, saham itu telah disiapkan sebagai sumber pelaksanaan program pemberian saham kepada manajemen/karyawan (ESOP/MESOP).

Mengacu kinerja 6 bulanan, GoTo mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp607 miliar pada semester I-2026, membalikkan posisi rugi pada semester I-2025 sebesar Rp580 miliar. Dengan pencapaian ini, maka perusahaan yang menaungi bisnis On-demand Service Gojek dan fintech GoPay ini mencatatkan laba bersih dalam 2 kuartal beruntun setelah di kuartal I, perseroan juga mencatat laba bersih atribusi entitas induk sebesar Rp258 miliar.

Selama semester I-2026, pendapatan bersih GoTo tembus Rp10,99 triliun, melesat 28,4% dari pendapatan bersih semester I-2025 yakni Rp8,56 triliun. Pendapatan terbesar masih disumbang jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun (+16,5%), lalu imbalan jasa Rp3,15 triliun (+14,9%), dan pendapatan pinjaman Rp2,71 triliun (+65%).

Sumbangan pendapatan lain yakni dari pendapatan e-commerce service fee PT Tokopedia Rp551 miliar (+32,3%) dan pendapatan iklan Rp254 miliar (+8%). Sisanya pendapatan lain-lain mencapai Rp1,13 triliun atau melesat 46,5% dari periode semester I tahun lalu.

GOTO juga mencatatkan laba usaha mencapai Rp782 miliar dari sebelumnya rugi usaha Rp172 miliar. Dari sisi aset, GOTO mencatatkan peningkatan 3,8% dibanding Desember 2025 menjadi Rp47,47 triliun dengan besaran kas dan setara kas Rp23 triliun.

 

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]
Next Article GOTO Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Beruntun, Bukti Kekuatan Ekosistem


Most Popular
Features