Calon Bos BI Destry Buka Suara Soal Defisit Transaksi Berjalan Bengkak

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 14:45 WIB
Foto: Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia-Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti buka suara soal defisit transaksi berjalan atau current account deficit yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Dalam laporan BI, defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 mencapai US$ 12,5 miliar atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal sebelumnya defisit transaksi berjalan hanya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.


"Jangka panjang kita punya tantangan sektor eksternal dari balance payment kita," ungkap Destry saat uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Rabu (26/8/2026)

Nilai yang mencapai 12 miliar dolar AS tersebut bahkan menjadi defisit transaksi berjalan terbesar secara nominal sepanjang sejarah. Atau paling tidak berdasarkan data yang tersedia sejak kuartal I-2004.

Rekor sebelumnya terjadi pada kuartal II-2013 ketika defisit transaksi berjalan mencapai US$10,13 miliar.

Besarnya tekanan juga terlihat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan masih berada di level US$3,58 miliar.

Dalam waktu tiga bulan, defisit membengkak sekitar US$8,91 miliar atau lebih dari tiga kali lipat. Pelebaran defisit tersebut turut mendorong rasio transaksi berjalan terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan mencapai 3,34% terhadap PDB, naik tajam dibandingkan 0,97% pada kuartal I-2026.

Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV-2018, ketika defisit transaksi berjalan mencapai 3,72% terhadap PDB.

Pada triwulan pertama tahun ini, neraca barang Indonesia masih mencatat surplus US$8,21 miliar. Namun, tiga bulan kemudian, surplus tersebut turun drastis menjadi hanya US$1,32 miliar. Penurunannya mencapai US$6,89 miliar atau sekitar 83,92%.

Penyusutan surplus neraca barang menyumbang sekitar 77,31% dari total pelebaran defisit transaksi berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Bukan hanya perdagangan barang yang memburuk. Neraca jasa Indonesia juga mencatat defisit terbesar sepanjang sejarah.

Pada kuartal kedua 2026, defisit jasa mencapai US$5,89 miliar, atau melonjak 1,5 miliar dolar AS dibandingkan US$4,39 miliar pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan defisit jasa menyumbang sekitar 16,86% dari total pembengkakan defisit transaksi berjalan.

"Jadi PR bagaimana agar ekspor bisa tingkatkan dan jasa. Ini selalu defisit karena jasa selalu negatif sehingga current account defisit karena di trade balance punya tantangan eksport harus digenjot," pungkasnya.


(mij/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Fitch: Destry Damayanti Jadi Nakhoda BI Bantu Perkuat Rupiah