BI Catat Transaksi Berjalan Defisit US$ 4 M di Q1, Terburuk Sejak 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi berjalan tembus hingga US$ 4 miliar atau 1,1% dari PDB pada kuartal I-2026. Defisit ini meningkat jika dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar 0,7% dari PDB atau US$ 2,5 miliar.
Defisit ini juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan US$ 200 juta atau O,1%. Ini adalah defisit terbesar sejak kuartal IV-2019 yakni US$ 8,04 miliar. BI pun masih mengklaim bahwa defisit transaksi berjalan tetap rendah.
"Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (22/5/2026).
BI mencatat neraca perdagangan barang masih mengalami surplus sebesar US$ 8 miliar sepanjang kuartal I-2026. Surplus ini lebih rendah dibandingkan US$ 10,2 miliar pada kuartal IV-2025. Kemudian neraca perdagangan nonmigas masih surplus US$ 13,3 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus pada kuartal sebelumnya Rp 16 miliar.
Adapun, BI menuturkan defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight.
Defisit neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ 5,3 miliar pada kuartal I-2026, dari US$ 5,7 miliar pada kuartal IV-2025. Defisit ini dipengaruhi oleh konsumsi minyak domestik. yang tertahan akibat konflik di Timur Tengah.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]