MARKET DATA

Rupiah Melemah, Ekonom Ingatkan Risiko Dolar ke Rp16.900

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
14 January 2026 08:10
Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/1/2026).

Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda terdepresiasi sekitar 0,21% dan ditutup di level Rp16.860/US$. Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah sejak 24 April 2025, ketika rupiah ditutup melemah di level Rp16.865/US$, yang sekaligus menjadi level terlemah sepanjang masa.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai pelemahan rupiah dipicu oleh arus keluar dana asing atau hot money flow, khususnya pasar surat utang negara.

"Kelihatannya investor asing banyak yang keluar dulu ambil untung," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, kondisi geopolitik global kurang kondusif menjadi faktor utama yang mendorong investor bersikap lebih defensif. Ketegangan yang terjadi di beberapa kawasan baik itu yang terjadi antara Amerika Venezuela, Rusia Ukraina, terus juga China Taiwan, membuat dolar diburu sebagai aset aman.

"ini kan banyak belum lagi dari Iran dan kita lihat juga mata uang Asia yang lain juga melemah terhadap dolar, jadi tidak hanya rupiah," ujarnya.

Meski demikian, Myrdal menilai tekanan rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Menurutnya, Bank Indonesia masih memiliki amunisi moneter yang cukup kuat untuk mengintervensi menjaga pergerakan rupiah agar tetap stabil.

"Terus juga dari sisi kebijakan, kelihatannya kalau rupiah melemah terlalu tajam, juga ada kemungkinan intervensi akan dilakukan oleh Bank Indonesia, supaya tetap jaga rupiah itu masih kelihatan mengalami pergerakan yang relatif stabil dan dinamis," ujarnya.

Myrdal memperkirakan rupiah memiliki level resistensi kuat di level Rp16.992/US$.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede pun menilai elemahan rupiah terutama didorong kombinasi tekanan eksternal dan sensitivitas pasar terhadap isu domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS secara global membuat mata uang Asia cenderung ikut melemah.

"Apalagi ketika yen melemah dan harga minyak kembali menguat sehingga minat pelaku pasar bergeser ke aset yang dianggap lebih aman dan likuid. Di saat yang sama, tekanan harga minyak biasanya memperbesar kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan karena biaya impor energi meningkat," ujar Josua kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (14/1/2026).

Dari sisi domestik, pelemahan yang beruntun mencerminkan pasar masih menilai adanya risiko terkait arah kebijakan dan persepsi disiplin fiskal, sehingga permintaan dolar untuk lindung nilai dan kebutuhan pembayaran berjalan menjadi lebih dominan. Dalam konteks ini, Josua menilai Bank Indonesia umumnya memberi ruang rupiah bergerak sebagai peredam guncangan, namun akan menahan laju pelemahan bila pergerakannya terlalu cepat atau terlalu bergejolak.

"Tegangan perekonomian global jelas berpengaruh, karena sumber guncangannya bukan hanya dari satu kanal. Ketidakpastian kebijakan di negara maju, dinamika suku bunga global, fluktuasi harga komoditas terutama minyak, serta kekhawatiran perlambatan mitra dagang besar dapat memicu perubahan cepat pada arus modal portofolio dan selera risiko," ujarnya.

Saat ketidakpastian meningkat, Josua menjelaskan rupiah biasanya lebih rentan karena investor cenderung menunda penempatan dana di aset berisiko dan lebih memilih memegang dolar AS.

Di awal 2026, tekanan ini makin terasa karena pasar juga menyoroti risiko pelebaran defisit kembar, yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan, yang dapat menambah premi risiko pada aset berdenominasi rupiah.

Josua menilai risiko rupiah menembus Rp16.900 dalam waktu dekat ada dan relatif realistis secara jarak pergerakan, mengingat rupiah sudah berada di area atas kisaran jangka pendek dan sempat bergerak lebih lemah intrahari pada periode terakhir.

"Skenario tembus Rp16.900 akan lebih mungkin bila dolar AS menguat lagi, harga minyak naik, dan sentimen global kembali defensif, sementara permintaan dolar domestik meningkat untuk kebutuhan pembayaran atau lindung nilai," ujarnya.

Namun, peluang itu biasanya dibatasi oleh respons stabilisasi Bank Indonesia ketika pelemahan dinilai terlalu cepat, serta potensi penyeimbang dari aliran dana ke pasar obligasi atau faktor fundamental yang masih cukup solid.

Secara rentang tahunan, level Rp16.900 dinilai masih berada dalam kisaran pergerakan yang wajar oleh sebagian pelaku pasar, sehingga kuncinya adalah kecepatan gerak dan intensitas gejolak, bukan semata levelnya.

"Meskipun demikian hingga akhir tahun USD/IDR diperkirakan masih akan berada di kisaran 16.700," ujarnya.

(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Ambruk, Dolar AS Tembus Rp 17.000 Dolar Singapura Rp 13.000


Most Popular
Features