MARKET DATA

Dari Teknisi ke Taipan Properti, Orang Terkaya Asia Dibui Seumur Hidup

Redaksi,  CNBC Indonesia
21 August 2026 14:10
Hui Ka-yan pengusaha asal China di vonis hukuman seumur hidup. (Dok. Supreme Peoples Courth of the People Republic of China)
Foto: Hui Ka-yan pengusaha asal China di vonis hukuman seumur hidup. (Dok. Supreme People’s Courth of the People Republic of China)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengadilan di Shenzhen, China, menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan, pendiri raksasa properti China Evergrande Group, pada Kamis (20/8/2026) waktu setempat. Hui yang pernah menyandang predikat orang terkaya di Asia kini harus mendekam di balik jeruji seumur hidupnya atas sederet kasus kejahatan finansial.

Berdasarkan laporan kantor berita resmi Xinhua, Hui dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan termasuk suap, penipuan, dan pemalsuan informasi keuangan. Selain hukuman penjara, pengadilan juga menjatuhkan denda sekitar 8,82 miliar yuan atau setara Rp20 triliun kepada Evergrande, serta denda tambahan 7 miliar yuan untuk unit usahanya di dalam negeri China. Seluruh aset pribadi Hui turut disita negara.

Otoritas China menyebut nilai kejahatan yang dilakukan Hui "sangat besar" dan perbuatannya "sangat keji", mengingat dampaknya yang menyebabkan kerugian ekonomi masif serta kerugian sosial yang luas.

Dari Teknisi Baja ke Taipan Properti

Kisah hidup Hui sendiri merupakan perjalanan naik-turun yang dramatis. Pria kelahiran Provinsi Henan ini dibesarkan oleh neneknya di sebuah desa dan sempat bekerja sebagai teknisi baja sebelum membangun kerajaan bisnis propertinya. Evergrande tumbuh pesat lewat strategi ekspansi agresif, mengandalkan pinjaman besar untuk memborong lahan sembari menjual rumah dengan margin tipis demi perputaran cepat.

Strategi itu sempat membuahkan hasil gemilang. Pada 2020, penjualan tahunan Evergrande menembus 700 miliar yuan. Setahun sebelumnya, kekayaan Hui pernah mencapai puncaknya di angka US$45,3 miliar pada 2017, menjadikannya orang terkaya di Asia versi Forbes.

Namun keruntuhan datang begitu cepat. Pada 2021, Evergrande gagal bayar utang luar negerinya dan memicu kepanikan di sektor properti China yang hingga kini masih membebani perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Pada 2023, kekayaan Hui diperkirakan tinggal US$3 miliar, anjlok drastis dari puncaknya.

Ditahan Sejak 2023

Hui pertama kali ditahan otoritas China pada akhir 2023. Setelah tiga tahun berada dalam pengawasan, ia akhirnya mengaku bersalah pada April 2026 atas delapan dakwaan sekaligus, termasuk penyalahgunaan dana serta penghimpunan dana masyarakat secara ilegal.

Upaya restrukturisasi utang Evergrande yang bernilai lebih dari US$300 miliar juga kandas pada 2024, setelah pengadilan Hong Kong memutuskan untuk melikuidasi perusahaan lantaran proposal restrukturisasi dinilai tidak memadai. Setahun berselang, saham Evergrande resmi dicoret dari Bursa Efek Hong Kong.

Tak hanya Hui, pengadilan Shenzhen juga menjatuhkan hukuman kepada 56 terdakwa lain terkait kasus Evergrande, dengan masa hukuman bervariasi antara 22 bulan hingga 18 tahun penjara. Di antara mereka terdapat dua putra Hui, yakni Xu Tenghe dan Xu Zhijian.

Sementara itu, mantan istri Hui, Ding Yumei, yang kini dikabarkan tinggal di London, masih menjadi incaran para likuidator yang berupaya melacak aset untuk mengganti rugi para kreditur.

Keruntuhan Evergrande hingga kini masih dipandang sebagai simbol pecahnya gelembung properti China, krisis yang dampaknya masih terasa hingga bertahun-tahun kemudian.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pan Brothers Balik Rugi, Laba Tahun Lalu Tinggal Kenangan


Most Popular
Features