IHSG Lanjutkan Reli, Sesi I Menguat 0,52% ke Level 6.535
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026), melanjutkan reli setelah sehari sebelumnya indeks menembus kembali level psikologis 6.500.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir sesi pertama pukul 11.30 WIB, IHSG berada di level 6.535,57, menguat 34 poin atau 0,52% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.501,59.
IHSG dibuka di level 6.524,07 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.544 serta terendah 6.507 pada awal perdagangan.
Penguatan IHSG berlangsung cukup solid dengan mayoritas saham berada di zona hijau. Sebanyak 320 saham menguat, 268 saham melemah, sementara 196 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi pada hingga jeda makan siang mencapai Rp 8,96 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 26,65 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,35 juta kali.
Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh utilitas, finansial dan konsumer primer. Sementara itu hanya sektor industri dan kesehatan yang mengalami koreksi hari ini.
Emiten dengan sumbangsih penguatan tertinggi ke IHSGÂ hari ini adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebanyak 12,45 poin. Saham emiten perbankan BUMN tersebut tercatat melesat 2,55% ke level Rp 3.220 per saham.
Emiten perbankan BUMN lain juga menjadi penopang penguatan IHSGÂ hari ini dengan kontribusi Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masing-masing senilai 4,35 dan 3,52 indeks poin.
Emiten lain yang ikut mengangkat kinerja IHSGÂ hari ini termasuk BBCA, DSSA, BUMI, BREN, BRMS, TPIA dan COIN.
Adapun perdagangan IHSG hari ini berpotensi dibayangi sentimen eksternal dan domestik.
Dari global, perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik AS-Iran. Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terberat dalam sejarah terhadap Iran serta memperketat blokade. Eskalasi ini berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pasar juga mencermati kenaikan kembali yield US Treasury tenor panjang. Departemen Keuangan AS berencana memperbesar program buyback surat utang jangka panjang, bahkan berpotensi di atas US$4 miliar per penerbitan. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor terkait inflasi, defisit, dan besarnya pasokan utang pemerintah AS.
Dari The Fed, risalah FOMC menunjukkan perdebatan yang cukup terbelah mengenai arah suku bunga. Mayoritas pejabat mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75%, tetapi sejumlah pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan apabila inflasi tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang penguatan aset berisiko.
Dari Asia, inflasi Jepang kembali meningkat menjadi 2% secara tahunan pada Juli. Sementara itu, neraca perdagangan Jepang mencatat defisit JPY634,5 miliar. Di China, PBOC mempertahankan LPR 1 tahun di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5% untuk bulan ke-15 berturut-turut, di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi domestik.
Dari dalam negeri, investor akan mencermati rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia. Pada kuartal I, NPI mencatat defisit US$9,1 miliar, sedangkan defisit transaksi berjalan mencapai US$4 miliar atau 1,1% terhadap PDB. Data terbaru akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan sektor eksternal mulai mereda dan apakah arus modal asing kembali menguat.
BI juga akan merilis data uang beredar Juli 2026. Sebagai gambaran, M2 pada Juni tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun, sementara penyaluran kredit tumbuh 12,1%. Data terbaru akan menjadi perhatian untuk melihat perkembangan likuiditas serta momentum penyaluran kredit di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]