Nikkei-Kospi Kompak Merah, Bursa Asia Dibayangi Yield AS
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Jumat (21/8/2026) mengikuti tekanan pasar global setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor panjang kembali melanjutkan kenaikan.
Melansir CNBC.com, kekhawatiran investor terhadap inflasi kembali menguat meskipun pemerintah AS telah berupaya meredam aksi jual di pasar obligasi.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,92%, sementara indeks Topix melemah 0,40%. Tekanan juga terjadi di Korea Selatan dengan indeks Kospi turun 1,07%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq merosot lebih dalam sebesar 2,44%.
Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 turut bergerak di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,21%. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor Asia di tengah kembali meningkatnya tekanan pada pasar surat utang AS.
Tekanan pada pasar terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka panjang kembali melanjutkan kenaikan setelah upaya pemerintah untuk membendung aksi jual obligasi belum berhasil meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi. Kenaikan imbal hasil obligasi umumnya menekan pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman dan mengurangi daya tarik aset berisiko.
Chief Investment Officer Americas UBS, Ulrike Hoffmann-Burchardi, mengatakan langkah pembelian kembali atau buyback obligasi oleh Departemen Keuangan AS berbeda dengan kebijakan pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE) yang dilakukan Federal Reserve (The Fed).
Menurut dia, Departemen Keuangan tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan uang guna membiayai pembelian aset tersebut sehingga setiap aksi buyback harus didanai melalui sumber lain.
"Berbeda dengan QE melalui Federal Reserve, Departemen Keuangan tidak dapat menciptakan uang untuk mendanai pembelian aset," tulis Hoffmann-Burchardi. Ia menilai pendanaan tersebut kemungkinan dilakukan melalui peningkatan penerbitan surat utang jangka pendek atau penyesuaian pada bagian lain dari program pembiayaan pemerintah.
Hoffmann-Burchardi menambahkan, operasi tersebut pada dasarnya hanya mengubah profil jatuh tempo utang yang dipegang investor tanpa mengurangi total utang yang harus diserap oleh pasar. Langkah itu juga tidak menghilangkan kebutuhan pembiayaan pemerintah maupun menyelesaikan kekhawatiran pasar terkait besarnya pasokan obligasi pemerintah AS.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada kinerja sejumlah perusahaan di Wall Street. Saham Ross Stores melonjak lebih dari 7% dalam perdagangan setelah jam bursa setelah perusahaan membukukan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.
(mkh/mkh)