MARKET DATA

Breaking! IHSG Tiba-Tiba Ambruk 1,60%, Saham Konglo Balik Arah

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 June 2026 09:17
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba anjlok setelah sem sempat dibuka menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Pada awal perdagangan, IHSG melesat 11,67 poin atau 0,19% ke posisi 6.207. Namun kurang dari 15 menit setelah pasar buka IHSG anjlok 1,60% ke level 6.096,28 dan kehilangan nyaris 100 poin.

Nilai transaksi di awal perdagangan tercatat sebesar Rp 2,64 triliun dengan volume 4,45 miliar saham dan frekuensi 334 ribu kali transaksi. Sebanyak 149 saham tercatat menguat, 398 melemah, dan 159 bergerak stagnan.

Saham-saham konglomerat tercatat masih menjadi yang paling ramai ditransaksikan hari ini. Saham-saham tersebut yang menjadi bahan bakar kenaikan IHSG pada perdagangan sesi sebelumnya hari ini malah tercatat kompak ambruk dan menjadi pemberat kinerja indeks.

Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri akan membayangi IHSG dan rupiah. Setelah sama-sama menguat pada perdagangan Selasa kemarin, pasar keuangan Indonesia kembali diuji pada hari ini.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Selasa (2/6/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada Mei 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).

Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya permintaan domestik. Pesanan baru tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut dengan laju tercepat sejak Februari.

Namun, kinerja pasar ekspor masih menjadi titik lemah. Pesanan dari luar negeri turun untuk bulan ketiga beruntun dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, seiring berlanjutnya gangguan perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 surplus US$ 90 juta. Surplus ini menyusut dibanding catatan pada Maret 2026 yang senilai US$ 3,32 miliar.

Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar US$ 25,30 miliar, sedangkan impor US$ 25,21 miliar. Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Lalu Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan inflasi pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan atau month to month (mtm). Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,35% dan inflasi tahunannya mencapai 3,08%.

Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu tercatat lebih tinggi dibanding kondisi April 2026 yang mengalami inflasi 0,13% mtm.

Sentimen utama lainnya adalah terkait jumlah kapasitas pembiayaan yang telah disetujui perbankan namun belum dicairkan kepada dunia usaha (undisbursed loan) alias kredit nganggur mencapai Rp2.527 triliun per Maret 2026. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku usaha masih menahan ekspansinya.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Nixon Napitupulu mengatakan, nilai undisbursed loan perbankan memang mengalami kenaikan sebesar 7,35% secara tahunan pada Maret 2026. Menurutnya, terdapat berbagai alasan yang membuat fasilitas kredit yang telah disetujui belum dicairkan oleh nasabah.

Ia mengungkapkan pertumbuhan undisbursed loan terbesar justru terjadi pada kelompok bank besar. Sementara itu, kelompok bank KBMI 1 dan KBMI 2 menjadi segmen yang paling banyak mengalami penurunan nilai undisbursed loan.

Sementara itu bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), dengan indeks utama Jepang mencetak rekor tertinggi baru.

Melansir CNBC, Investor tampak mengabaikan ketidakpastian terkait negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Sentimen pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran telah menempatkan ranjau di sebagian besar wilayah Selat Hormuz serta melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di jalur pelayaran tersebut.

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 0,91% dan mencetak rekor tertinggi baru. Indeks Topix juga menguat 0,93%, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,32%.

Berbeda dengan pasar Jepang dan Australia, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan pelemahan. Hang Seng futures terakhir diperdagangkan di level 25.853, lebih rendah dibandingkan penutupan indeks Hang Seng sebelumnya di posisi 26.038,32.

Pasar saham Korea Selatan ditutup karena libur nasional. Kondisi ini membuat aktivitas perdagangan di kawasan Asia relatif lebih terfokus pada pasar Jepang, Australia, dan Hong Kong.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah melanjutkan kenaikan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 1,16% menjadi US$94,92 per barel, sedangkan Brent untuk pengiriman Juli diperdagangkan di kisaran US$96 per barel.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Galau, Dibuka Menguat Tiba-Tiba Terjun Bebas ke Zona Merah


Most Popular
Features