Penyebab IHSG Tancap Gas Naik 1% Pagi Ini
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat lebih dari 1% pada awal perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan indeks terutama ditopang saham-saham berbasis komoditas dan tambang.
Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.01 WIB, IHSG berada di level 6.460,28, menguat 66,15 poin atau 1,03%. IHSG dibuka di level 6.447,25 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.460,28.
Dari sektoral, bahan baku menjadi sektor dengan penguatan paling tinggi, yakni 2,10%. Disusul sektor utilitas yang naik 1,23% dan energi 1,22%.
Penguatan sektor bahan baku menjadi salah satu penopang utama IHSG karena sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor komoditas mencatat kenaikan.
Berdasarkan kontribusi terhadap IHSG, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi sekitar 6,08 poin. Selanjutnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 4,71 poin dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 4,49 poin.
Saham tambang lainnya juga menopang indeks, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang menyumbang 3,97 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar 3,23 poin, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 3,11 poin.
Sementara itu, penguatan IHSG cukup solid karena jauh lebih banyak saham yang berada di zona hijau dibandingkan zona merah. Sebanyak 363 saham menguat, 105 saham melemah, dan 495 saham stagnan.
Nilai transaksi pada awal perdagangan tercatat Rp409,3 miliar, dengan volume 884,1 juta saham dan frekuensi 66.130 kali transaksi.
Adapun pada perdagangan IHSG hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, investor mencermati keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75% dalam RDG 18-19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan Deposit Facility 5% dan Lending Facility 6,5%. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dari eksternal, sentimen pasar cenderung mendapat dorongan dari penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS. Yield Treasury tenor panjang melandai setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Indeks dolar AS turun 0,84% ke 98,83, yang berpotensi memberikan ruang bagi penguatan rupiah dan mengurangi tekanan terhadap SBN.
Namun, investor tetap mencermati risalah FOMC yang menunjukkan inflasi AS masih tinggi. Sejumlah pejabat The Fed bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak kunjung turun. Sentimen tersebut menjadi penting di tengah desakan Presiden AS Donald Trump agar The Fed memangkas suku bunga.
Dari pasar komoditas, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. WTI naik 0,77% menjadi US$85,59 per barel dan Brent menguat 0,44% menjadi US$91,42 per barel.
Sementara di Asia, investor menanti data neraca perdagangan Jepang Juli serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) China. Pasar memperkirakan LPR 1 tahun China tetap di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Data Jepang juga menjadi perhatian karena kuatnya impor dan ekspor dapat memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan regional, termasuk potensi permintaan terhadap produk Indonesia.
(mkh/mkh)