Data BPS: 62,5% Nasabah RI Sudah Tahu Simpanannya Dijamin LPS
Jakarta, CNBC Indonesia - Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mengungkap masih rendahnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, sebanyak 62,51% penduduk berusia 15-79 tahun yang memiliki rekening simpanan sudah mengetahui bahwa simpanan mereka dijamin.
Namun, dari kelompok masyarakat yang mengetahui adanya skema penjaminan simpanan tersebut, sudah 46,31% yang mengetahui LPS.
"Sebanyak 62,51% penduduk usia 15 sampai 79 tahun yang memiliki rekening simpanan sudah mengetahui bahwa simpanannya dijamin. Kemudian, dari kelompok tersebut, sebesar 46,31% mengetahui LPS," ujar Amalia saat konferensi pers Hasil SNLIK 2026 di Kantor Pusat BPS, Senin (10/8/2026).
Temuan tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan masyarakat mengenai adanya jaminan simpanan dengan pemahaman mengenai lembaga yang memberikan penjaminan tersebut.
Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, masyarakat dengan pendidikan perguruan tinggi menjadi kelompok yang paling banyak mengetahui bahwa simpanannya dijamin. Persentasenya mencapai 85,26%.
Sementara berdasarkan tier simpanan, tingkat pengetahuan tertinggi terdapat pada pemilik rekening dengan nilai simpanan Rp100 juta-Rp500 juta. Sekitar 92,5% pemilik simpanan pada kelompok tersebut mengetahui mengenai penjaminan simpanan.
Pengetahuan masyarakat mengenai penjaminan simpanan juga menunjukkan perbedaan antarprovinsi. Papua tercatat memiliki tingkat pengetahuan tertinggi dengan 77,14%, disusul DKI Jakarta sebesar 76,39% dan Kalimantan Timur 74,73%.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah provinsi dengan tingkat pengetahuan yang relatif rendah, di antaranya Papua Pegunungan, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Anggito Abimanyu mengatakan bahwa pihaknya akan fokus memberikan pendidikan kepada masyarakat berpendidikan SMA ke bawah. Menurutnya, pengenalan masyarakat terhadap penjaminan simpanan sudah cukup luas, tetapi belum kuat. Dalam hal ini, Anggito menyebut literasi keuangan merupakan faktor penting.
"Edukasi itu harus lebih terarah lebih sederhana, lebih dekat dengan masyarakat," tuturnya.
(haa/haa)