Lampung Financial Festival 2026: Kolaborasi Angkat Literasi Keuangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelaran Lampung Financial Festival 2026, yang diinisiasi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), ditargetkan bisa mengangkat tingkat literasi keuangan di provinsi yang kaya akan komoditas pangan tersebut.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu mengatakan, pemilihan Lampung sebagai lokasi penyelenggaraan festival bukan tanpa alasan. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan LPS, tingkat literasi penjaminan simpanan masyarakat Lampung masih berada di bawah rata-rata nasional.
"Ini bukan tiba-tiba. Ini adalah program tahunan. Kami mengadakan semacam financial festival setahun dua kali," ujar Anggito dalam Press Conference Lampung Financial Festival 2026, di Novotel Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).
Menurut Anggito, survei menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat secara nasional mengenai adanya jaminan terhadap simpanan mencapai sekitar 62,5%. Artinya, sekitar enam dari 10 orang memahami bahwa dana yang disimpan di perbankan mendapatkan jaminan. Namun, tingkat literasi masyarakat Lampung tercatat lebih rendah, yakni sekitar 58,5%.
"Nasionalnya itu pengetahuan literasi tentang penjaminan simpanan total 62,5%. Jadi enam dari 10 orang itu memahami bahwa uang yang disimpan itu dijamin. Lampung itu 58,5%, jadi Lampung itu di bawah rata-rata nasional," kata Anggito.
Wakil ketua DK LPS, Farid Azhar Nasution menambahkan, Berdasarkan survei yang baru saja dirilis oleh OJK, LPS, dan BPS, indeks inklusi keuangan Lampung sebesar 90,9%. Masih di bawah rata-rata nasional 93,6%. Artinya akses sudah tinggi tapi belum sepenuhnya merata.
Kabar baiknya, literasi keuangan Lampung mencapai 72,3%, lebih tinggi dari rata-rata nasional 69,6%. Jadi kalau secara sederhana, masyarakat Lampung sudah cukup tahu tapi belum sepenuhnya menggunakan.
"Ada gap literasi dan inklusi nasional masih sebesar 24 poin, artinya akses tumbuh lebih cepat daripada pemahaman. Di saat yang sama muncul berbagai jebakan keuangan, ada pinjol ilegal, ada judi online, adik-adik yang suka belanja ada FOMO, ada YOLO, ada FOPO, serta belanja inklusif dengan insight discord dan pay letter yang dipicu oleh algoritma digital," papar Farid dalam gelaran Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Sementara itu, Rektor UNILA, Lusmeilia Afriani mengapresiasi gelaran Lampung Financial Festival 2026, karena membawa diskusi terkait keuangan yang menjadi sangat penting untuk dihadiri.
"Hasil survei nasional literasi dan inklusi 2026 menunjukkan inklusi 93,61%, literasi 69.57%. ada jarak 24 poin, pesan jelas, banyak orang gunakan layanan keuangan, namun belum semua orang memahami biaya, manfaat, hak, kewajiban, risikonya," tuturnya.
"Festival ini akan bermakna jika saat pulang dari keputusan kecil yang berubah, mulai mencatat pengeluaran, lebih berhati-hati dalam berutang, memeriksa legalitas investasi, menjaga data pribadi, segera melapor saat terjadi penipuan," imbuh Lusmeilia.
Sebagai tuan rumah, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan pentingnya literasi keuangan. Bahkan pemerintah yang ingin menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas mengatur neraca keuangan, cashflow keuangan, itu adalah melalui sektor jasa keuangan.
"Jadi keuangan ini adalah salah satu sektor yang sangat penting dalam sendi-sendi kehidupan kita," ucapnya.
Adapun terkait inklusi keuangan di Provinsi Lampung ada di level 90,94% sementara literasi keuangan masih di level 72,3%. Ini menunjukkan masih ada jarak pemahaman akan produk dan layanan keuangan yang harus dikejar.
"Yang mengerti itu apa itu saham, obligasi dan lain-lain itu masih sangat sedikit. Artinya apa ini? Artinya akses masyarakat-orang tua kalian, adik kalian, kakak kalian-mendapatkan akses ke keuangan digital keuangan itu jauh lebih mudah dibandingkan pengetahuan mereka dalam menggunakan literasi keuangan. Paham ya? Maka kesenjangan inilah yang penting kita ketika kita bicara generasi muda," terang Rahmat Mirzani.
Setali tiga uang, Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan menyatakan, festival kali ini sesuai perintah UU, pasal 90A UU 4, nomor 2026, soal sektor jasa keuangan, yang memberikan tugas pada LPS, dalam rangka mendukung LPS dapat melaksanakan program edukasi, pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara inklusif.
Adapun terkait dengan sektor jasa keuangan, dinilai Marwan sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Namun demikian, perkembangannya seperti tetap harus diperhatikan .
"Pertama, peluang, hampir semua yang punya hp, sudah bisa punya akses, apakah keuangan, berdagang, konten creator banyak sekali, banyak sekali dengan akses yang besar, tapi ada risiko yang harus kita hadapi, dan terus didengungkan, investasi bodong, banyak masyarakat kita yang terjerat investasi bodong," ucapnya.
"Ini jadi perhatian kita, kemajuan tech, harus kita ambil manfaat positifnya, jangan sampai yang main gadget terjebak dan mengganggu masa depan," tandasnya.Â