Fenomena Ini Jadi Alasan Jogja Financial Festival Digelar
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu buka-bukaan soal digelarnya Jogja Financial Festival 2026.
Ia mengatakan, acara ini bukan sekadar festival tentang ekonomi, investasi dan literasi keuangan. Tetapi juga pertemuan gagasan, keberanian dan harapan bagi generasi muda Indonesia.
Terlebih ia menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan. Di mana anak-anak muda mudah membuka akun investasi tapi belum mampu menyusun perencanaan keuangan.
Selain itu, pinjaman online ilegal tumbuh cepat, judi digital menyusup melalui platform teknologi, kejahatan keuangan menjamur dan investasi semu terus terjadi dengan memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat.
"Ini (Jogja Financial Festival 2026) tempat anak-anak muda belajar bahwa mengolah masa depan bukan hanya soal mencari manfaat finansial tetapi tentang membangun ketahanan, menguasai teknologi, memitigasi risiko, menjaga martabat dan menciptakan peluang," ujarnya di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Oleh sebab itu menurutnya, teknologi tidak boleh tumbuh lebih cepat daripada etika literasi dan tanggung jawab finansial sebagai bangsa. Apalagi Indonesia memiliki 190 juta penduduk usia produktif. Jumlah ini menjadi bonus demografi terbesar dalam sejarah Republik Indonesia.
"Mereka bukan hanya konsumen aplikasi keuangan tapi menjadi investor produktif, entrepreneur baru, pencipta inovasi dan penggerak ekonomi nasional," pungkasnya.
Untuk diketahui, festival ini sendiri akan di hadiri lebih dari 10.000 orang secara fisik dari berbagai daerah, profesi, pendidikan dan lintas generasi. Festival ini pun diharapkan bisa mengubah pendekatan literasi keuangan yang tidak boleh eksklusif dan hadir dalam bahasa sederhana, populer, kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Karena itu kami menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif melibatkan sekolah, melibatkan kampus, komunitas kreatif, UMKM, media digital, artis nasional dan lokal hingga kegiatan olahraga," ujar Anggito.
Selain itu pada festival ini juga diadakan Jogja Run the City yang melintasi kawasan Universitas Gadjah Mada dan Kota Yogyakarta. Acara ini diikuti oleh lebih dari 5.000 pelari tingkat nasional dan daerah. Dan yang penting hasil kegiatan pengumpulan dana akan disalurkan untuk program beasiswa.
"Kami percaya inklusi keuangan tanpa kepedulian sosial akan melahirkan masyarakat yang cerdas secara ekonomi tapi kehilangan empati," tutupnya.
(dpu/dpu) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]