Bos LPS: Edukasi Keuangan Tak Boleh Bersifat 'Eksklusif'!
Yogyakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu membuka acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC) pada hari ini, Jumat (21/5/2026). Acara ini dihadiri oleh banyak pelajar mulai dari murid SMA, SMK, taruna hingga mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Dalam pidatonya, Anggito mengingatkan bahwa edukasi keuangan tidak boleh bersifat eksklusif atau hanya dipahami oleh regulator dan pelaku industri.
"Literasi keuangan harus hadir dalam bahasa yang sederhana populer, kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat," kata Anggito dalam sambutannya.
Dia pun mengatakan LPS merasa wajib hadir dengan pendekatan yang lebih inklusif dalam memberikan edukasi literasi keuangan. LPS pun merangkul semua sekolah, kampus, insan media, influencer, artis hingga olahragawan.
Dalam sambutannya, Anggito juga menuturkan paradoks sektor keuangan Indonesia, yakni era digitalisasi dan teknologi keuangan serta risiko di dalamnya bergerak lebih cepat dibandingkan pemahaman manusianya.
Menurut dia, artificial intelligence (AI) mulai mengganti banyak model bisnis. Transaksi keuangan digital sangat cepat berlangsung dalam hitungan detik. Produk investasi keuangan bertumbuh dan semakin beragam memberikan manfaat.
"Namun pada saat yang sama daya tahan literasi belum tumbuh secepat perkembangan industrinya. Inilah paradoks sektor keuangan Indonesia hari ini," kata Anggito.
Inilah yang menjadi landasan LPS bergerak untuk mencerdaskan masyarakat terkait dengan pemahaman keuangan.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]