Rupiah Menguat 4 Hari Beruntun, Dolar AS Turun ke Rp17.750
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan awal pekan dengan penguatan tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026), rupiah terapresiasi 0,75% ke posisi Rp17.750/US$.
Penguatan hari ini sekaligus melanjutkan tren positif rupiah yang berlangsung sejak 5 Agustus 2026 atau dalam empat hari perdagangan secara beruntun.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sudah menguat sejak pembukaan. Pada pagi hari, rupiah dibuka terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.800/US$, kemudian bertambah kuat hingga penutupan.
Rupiah bergerak di rentang Rp17.730-Rp17.825/US$ sepanjang perdagangan. Posisi penutupan hari ini juga lebih kuat 50 poin dibandingkan level pembukaan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,656.
Rupiah tetap mampu menguat tajam meski DXY bergerak tipis di zona hijau. Penguatan mata uang Garuda membesar pada siang hari setelah Istana mengumumkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).
Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai calon Gubernur BI. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi hanya terdapat satu nama yang diajukan.
"Namanya tunggal, satu nama, Bu Destry Damayanti," kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi.
Pengajuan satu nama memberikan kepastian lebih besar mengenai arah pergantian kepemimpinan BI. Kepastian tersebut cukup penting bagi pasar karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter, stabilitas rupiah, dan independensi bank sentral.
Meski demikian, Destry masih harus menjalani proses di DPR sebelum ditetapkan sebagai Gubernur BI definitif.
Adapun dari sisi eksternal, DXY yang masih berada sekitar posisi terendahnya dalam dua bulan terakhir turut membuat dorongan positif bagi rupiah. Dolar AS sempat tertekan pada Jumat pekan lalu setelah laporan ketenagakerjaan periode Juli yang menunjukkan perekonomian AS secara tidak terduga kehilangan lapangan kerja, sementara data dua bulan sebelumnya direvisi turun tajam.
Pelemahan pasar tenaga kerja ini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September mendatang. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 44%, turun dari 67% pada pekan sebelumnya.
Pelaku pasar global selanjutnya menantikan data inflasi AS periode Juli. Hasil data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan The Fed yang sekaligus dapat menentukan pergerakan dolar AS hingga dampaknya terhadap rupiah.
(evw/evw)