Nilai Tukar Rupiah Dibuka Loyo, Dolar AS Kini Tembus Rp17.860
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Selasa (22/9/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan penurunan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.860/US$ atau turun 0,20%. Sehari sebelumnya, Senin (21/9/2026), rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.830/US$ setelah melemah 0,56%.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau stagnan di posisi 100,425. DXY bertahan di level tersebut setelah menguat 0,21% pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri. Di pasar domestik, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dimulai hari ini dan berlangsung hingga Rabu (23/9/2026).
Keputusan suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan diumumkan besok. Pengumuman tersebut akan menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Pada RDG Agustus, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Destry, yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, menyebut keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari eksternal, dolar AS masih mendapat dukungan setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan memberi sinyal peluang pengetatan lanjutan.
Menurut CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 55% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari sekitar 43% sepekan sebelumnya.