Sempat Terbang ke 6.462, IHSG Malah Merosot 0,49% di Akhir Sesi 1
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan sesi I, Senin (10/8/2026). IHSG sempat menguat pada awal perdagangan sebelum akhirnya masuk zona merah menjelang penutupan sesi pertama.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG ditutup di level 6.378,40, turun 31,25 poin atau 0,49% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.409,65.
Padahal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.462,74 pada perdagangan pagi. Namun, tekanan jual kemudian membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.372,92.
Perdagangan sesi I berlangsung cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp11,58 triliun dengan volume perdagangan 31,98 miliar saham dalam 1,70 juta kali transaksi.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 287 saham menguat, 330 saham melemah, sementara 346 saham stagnan.
Tekanan terhadap IHSG terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi penurunan 4,17 poin, disusul Bank Mandiri (BMRI) yang mengurangi 3,69 poin.
Selain itu, Barito Pacific (BRPT) menekan IHSG sebesar 2,30 poin, VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) sebesar 2,09 poin, dan Amman Mineral Internasional (AMMN) sebesar 1,91 poin.
Sebaliknya, beberapa saham menjadi penopang IHSG. Sinar Mas Multiartha (SMMA) memberikan kontribusi kenaikan 3,17 poin, diikuti Bank Central Asia (BBCA) sebesar 2,50 poin, Merdeka Gold Resources (MDKA) 2,37 poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 1,94 poin, dan Garuda Indonesia (GIAA) 1,49 poin.
Secara sektoral, mayoritas sektor berada di zona merah. Sektor industri menjadi satu-satunya sektor dengan penguatan cukup signifikan, yakni 3,41%, disusul sektor jasa akademik dan pendidikan yang naik 1,67%.
Sementara itu, sektor keuangan relatif stagnan dengan pelemahan 0,03%. Sektor energi turun 0,14%, kesehatan 0,29%, barang konsumsi siklikal 0,34%, teknologi 0,53%, utilitas 0,57%, properti 0,58%, barang baku 0,66%, dan barang konsumsi primer menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, yakni 0,74%.
Adapun investor asing mencatat net buy sekitar Rp694,8 miliar sepanjang pekan lalu. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi saham yang paling banyak diburu asing dengan net buy Rp559 miliar. Posisi berikutnya ditempati Timah (TINS) dengan Rp385,5 miliar dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) sebesar Rp302 miliar.
Saham lain yang mencatatkan net buy asing besar antara lain MGLV Rp229,4 miliar, ANTM Rp215,7 miliar, BRPT Rp177,4 miliar, BBCA Rp140,2 miliar, GGRM Rp130,4 miliar, BBNI Rp120,3 miliar, dan ICBP Rp119,6 miliar.
Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada 10-14 Agustus 2026. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada inflasi Amerika Serikat (AS), harga produsen, dan penjualan ritel yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan merilis hasil Survei Konsumen Juli dan Survei Penjualan Eceran Juni. Kedua data tersebut akan memberikan gambaran mengenai daya beli masyarakat Indonesia.
Puncaknya adalah pada Jumat pekan ini di mana Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan serta menyerahkan Nota Keuangan serta Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
(mkh/mkh)