Raksasa Migas Panen Cuan Imbas Krisis Selat Hormuz, Ini Buktinya

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 04/08/2026 14:15 WIB
Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang masih berkecamuk antara AS-Israel dan Iran membuat pasar energi dunia terus bergejolak, namun justru mendatangkan berkah bagi raksasa-raksasa minyak global. Sejumlah perusahaan migas terbesar dunia melaporkan laba kuartalan tertinggi mereka dalam beberapa tahun terakhir untuk periode April-Juni 2026.

Harga minyak internasional rata-rata bertengger di kisaran US$ 96 per barel pada kuartal II-2026, melonjak 45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menguntungkan perusahaan-perusahaan yang masih mampu memproduksi dan mendistribusikan minyak ke seluruh dunia di tengah konflik di Timur Tengah.


Exxon Mobil, perusahaan migas terbesar AS, membukukan laba US$ 14,53 miliar pada kuartal II-2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun 2025. Chevron mencatat lonjakan laba yang lebih tajam, dari US$ 2,49 miliar menjadi US$ 12,07 miliar. CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan perusahaannya sudah siap menghadapi situasi seperti ini meski tidak pernah memprediksinya secara spesifik.

Tren serupa terjadi di kubu perusahaan energi Eropa. Shell asal Inggris melaporkan laba kuartal II-2026 melonjak tiga kali lipat dari tahun lalu menjadi US$ 10,82 miliar, sementara TotalEnergies asal Prancis membukukan laba lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 5,44 miliar. CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menyebut situasi di Selat Hormuz masih sangat fluktuatif dan kerap menjadi arena pertempuran.

Kondisi berbeda dialami Saudi Aramco, perusahaan migas paling bernilai di dunia. Karena mayoritas operasinya berada di dalam negeri yang dekat dengan pusat konflik, dampak perang terhadap Aramco relatif lebih besar. Kalangan analis yang disurvei FactSet memproyeksikan laba kuartal II-2026 Aramco, yang baru akan dirilis pekan depan, hanya tumbuh sekitar 27% dari tahun sebelumnya.

Gangguan pasokan energi semakin parah setelah gencatan senjata antara AS dan Iran kolaps awal bulan ini, ditambah perebutan kendali atas Selat Hormuz sebagai jalur akses ke Teluk Persia. Gelombang baru serangan di Laut Merah yang merupakan rute pelayaran alternatif terjadi setelah kuartal II berakhir turut mengerek harga energi kembali naik. Harga minyak dunia yang sempat kembali ke level sebelum perang di kisaran US$ 72 per barel pada awal Juli, melonjak ke sekitar US$ 87 per barel akhir pekan lalu.

Bisnis pengolahan minyak mentah menjadi bensin dan bahan bakar transportasi lainnya juga sangat menguntungkan sejumlah perusahaan, karena kerusakan kilang di Teluk Persia dan Rusia membuat harga bahan bakar tetap tinggi meski harga minyak mentah sempat anjlok.

Menurut firma konsultan energi Wood Mackenzie, industri migas saat ini cenderung menahan kas ekstra ketimbang menggelontorkannya untuk menambah produksi. Belanja produksi minyak dan gas industri secara keseluruhan tahun ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025, seiring ketidakpastian arah perang yang masih tinggi. Meski demikian, CEO Chevron Mike Wirth menyebut belum ada tanda signifikan bahwa perang ini akan menekan permintaan minyak dan gas dalam jangka panjang.

Lonjakan laba raksasa migas ini memicu kritik dari kelompok lingkungan, sejumlah menteri keuangan Eropa, hingga Presiden AS Donald Trump yang pada Juni lalu menuduh perusahaan migas mengambil untung berlebihan dari harga bensin di level konsumen. Uni Eropa sendiri pernah menerapkan pajak windfall profit serupa pada 2022 pascainvasi Rusia ke Ukraina, namun langkah serupa di AS kini dinilai sulit terwujud karena Kongres yang dikuasai Partai Republik cenderung berpihak pada industri migas.

Di tengah situasi ini, sejumlah investor mulai mempertanyakan tingkat eksposur perusahaan energi Barat di kawasan Teluk Persia, mengingat Exxon dan TotalEnergies memiliki investasi besar di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Namun Exxon menegaskan tetap optimistis terhadap kawasan tersebut. "Dunia membutuhkan sumber daya di kawasan itu, dan Selat Hormuz harus tetap terbuka," kata Woods, menambahkan pihaknya yakin kondisi itu pada akhirnya akan tercapai.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Melonjak 4% ke USD 83/barel