MARKET DATA

Harga Minyak Melonjak Lagi, Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Baru

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
11 June 2026 10:05
Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang minyak terbesar di Indonesia
Foto: CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Kamis (11/6/2026), didorong eskalasi terbaru konflik Timur Tengah setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul serangan tambahan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah target di Iran.

Menurut data Refinitiv pada pukul 09.35 WIB, harga minyak Brent berada di US$94,68 per barel, naik 1,7% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$93,10 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,01% ke US$91,84 per barel dari posisi US$90,03 per barel sehari sebelumnya.

Kenaikan tersebut memperpanjang volatilitas pasar energi global yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak mengikuti perkembangan konflik Iran-AS. Dalam sembilan hari perdagangan terakhir, Brent sempat turun ke US$91,45 per barel pada 9 Juni sebelum berbalik naik tajam. WTI juga sempat menyentuh US$88,20 per barel pada tanggal yang sama sebelum kembali menembus US$91 per barel pada perdagangan hari ini.

Pemicu utama lonjakan harga datang dari keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Melansir Reuters, komando militer gabungan Iran menyatakan seluruh kapal tanker minyak dan kapal komersial dilarang melintas. Iran bahkan mengancam akan menembak kapal yang mencoba melewati perairan tersebut.

Langkah tersebut muncul setelah militer AS melancarkan serangan tambahan ke berbagai sasaran di Iran pada Rabu sore waktu setempat. Serangan terbaru ini memperdalam ketegangan yang sebenarnya sempat mereda setelah gencatan senjata rapuh yang disepakati kedua negara pada awal April. Pasar khawatir konflik kembali berkembang menjadi perang terbuka yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dalam skala besar.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur transit sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Blokade yang telah berlangsung selama beberapa bulan membuat pasokan energi global berada dalam kondisi ketat. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko tambahan terhadap ketersediaan minyak dunia.

Di sisi lain, fundamental pasar minyak juga semakin mengencang. Reuters melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni menjadi 426,5 juta barel.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel. Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, cadangan minyak AS, termasuk cadangan strategis, telah menyusut sekitar 79 juta barel seiring upaya Washington membantu mengisi kekurangan pasokan global.

Kombinasi antara ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah dan berkurangnya stok minyak AS membuat pelaku pasar kembali menambahkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.

Selama ketidakpastian di Selat Hormuz masih berlangsung dan konflik Iran-AS belum menemukan titik penyelesaian, pasar energi global berpotensi tetap bergerak dalam volatilitas tinggi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Minyak Ambruk! Pasar Yakin AS-Iran Segera Damai


Most Popular
Features