Hormuz Makin Panas! Harga Minyak Melonjak 2,51%, Tembus US$90,31
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi, didorong eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin mengganggu arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Menurut Refinitiv hingga pukul 09.45 WIB, harga Brent berada di US$90,31 per barel, melonjak 2,51% dibandingkan penutupan Jumat (17/7/2026) di US$88,10 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$84,35 per barel, menguat 2,25% dari posisi sebelumnya di US$82,49 per barel.
Kenaikan ini membuat Brent kembali diperdagangkan di atas level psikologis US$90 per barel, level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
Reli harga minyak sudah berlangsung cukup panjang. Dalam sepekan terakhir, Brent menguat sekitar 15,9%, sementara WTI naik 15,5%, menjadi kenaikan mingguan terbesar masing-masing sejak April dan awal Maret.
Sentimen utama datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama akhir pekan, Amerika Serikat melanjutkan malam kesembilan berturut-turut serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Kuwait dan Bahrain melaporkan adanya serangan baru dari Iran.
Ketegangan itu merembet ke jalur pelayaran energi. Washington menyatakan tengah menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Teheran mengatakan pihaknya akan menindak kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki posisi sangat vital karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Gangguan sekecil apa pun berpotensi memengaruhi pasokan global dan memicu lonjakan premi risiko di pasar energi.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai melambat. Pada Minggu, hanya empat kapal yang melintasi selat tersebut, turun dari delapan kapal sehari sebelumnya. Sejak Jumat, tercatat hanya tiga kapal tanker produk minyak dan satu Very Large Crude Carrier (VLCC) yang memasuki kawasan itu untuk memuat minyak.
Risiko keamanan juga meningkat setelah badan pemantau pelayaran Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terbakar di barat laut Kumzar, Oman, wilayah yang berada di dekat pintu masuk Selat Hormuz.
Analis Barclays, Amarpreet Singh, menilai beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat seberapa besar ekspor minyak dari kawasan tersebut dapat dipertahankan di tengah situasi blokade dari kedua belah pihak.
Menurut Barclays, pasar minyak masih belum sepenuhnya memperhitungkan potensi tekanan terhadap persediaan minyak global. Kondisi stok saat ini berada pada level paling ketat dalam lima tahun terakhir sehingga gangguan pasokan dari Timur Tengah berpeluang memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan pada fase awal konflik.
Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik, terganggunya lalu lintas kapal tanker, serta kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan penghasil minyak terbesar dunia menjadi faktor yang terus menopang reli harga minyak pada awal pekan ini.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]