Harga Minyak Turun Lagi, Pasar Cerna Rencana Koalisi Laut Saudi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat pagi (31/7/2026), memperpanjang koreksi setelah sempat melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar kini menimbang peluang meredanya gangguan jalur pelayaran menyusul usulan pembentukan koalisi pertahanan maritim yang dipimpin Arab Saudi.
Mengacu data Refinitiv hingga pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent berada di US$88 per barel, turun 1,16% dibanding penutupan Kamis di US$89,03 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$81,84 per barel atau melemah 2,09% dari posisi penutupan sebelumnya di US$83,59 per barel.
Koreksi tersebut memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya. Pada penutupan Kamis (30/7), Brent turun 1,88% ke US$89,03 per barel, sedangkan WTI terkoreksi 1,03% menjadi US$83,59 per barel. Meski demikian, harga minyak masih bertahan jauh di atas level awal pekan lalu. Brent masih lebih tinggi sekitar 9,9% dibanding penutupan 21 Juli di US$91,01 per barel, sementara WTI menguat sekitar 8,2% dari US$84,91 per barel.
Tekanan terhadap harga muncul setelah Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional untuk memperkuat keamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut.
Pasar menilai langkah tersebut berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi minyak di Laut Merah. Pekan lalu, kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi sehingga mengancam jalur ekspor minyak melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi alternatif ketika lalu lintas di Selat Hormuz terganggu.
Sentimen lain datang dari perundingan Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Meski sehari sebelumnya seorang pejabat senior Iran mengatakan usulan Oman terkait pengelolaan bersama selat itu ditolak, keberlanjutan dialog tetap dipandang pasar sebagai peluang untuk membuka kembali jalur pelayaran secara lebih aman. Selat Hormuz sendiri mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia sehingga setiap perkembangan diplomatik langsung memengaruhi pergerakan harga energi.
Di sisi lain, premi risiko geopolitik belum hilang. Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyerang puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai balasan atas peluncuran rudal balistik Teheran ke pangkalan AS di Timur Tengah. Washington juga membantah klaim Iran yang menyebut enam pesawat tempur AS berhasil dihancurkan dalam serangan tersebut.
Konflik ikut mengganggu infrastruktur energi di sejumlah wilayah. Serangan drone memicu kebakaran pada dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Mesir. Pemerintah Mesir memastikan kebutuhan energinya tetap dapat dipenuhi melalui pasokan alternatif. Di saat yang sama, Houthi dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak di Provinsi Timur Arab Saudi dari wilayah Irak bersama kelompok bersenjata Irak.
Gangguan pasokan juga datang dari kawasan Laut Hitam. Sejumlah kapal tanker yang dijadwalkan memuat minyak di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) membatalkan proses pemuatan setelah sebuah kapal terkena serangan saat bersandar. Di Rusia, serangan drone Ukraina memicu kebakaran di kilang Perm milik Lukoil sehingga salah satu unit distilasi minyak mentah harus dihentikan operasinya.
Meski berbagai gangguan pasokan masih terjadi, pelaku pasar mulai melihat peluang tambahan pasokan apabila situasi keamanan di jalur pelayaran membaik. Prospek itu menahan laju kenaikan minyak yang sebelumnya sempat membawa Brent menyentuh US$93,31 per barel dan WTI mencapai US$85,94 per barel pada perdagangan Kamis sebelum akhirnya ditutup melemah
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]